Ini Penyebab Negosiasi AS-Iran Buntu versi Mantan Diplomat AS
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) dinilai salah besar dalam memperhitungkan kemampuan Iran, sehingga berujung pada kegagalan total dalam perundingan damai. Alih-alih menekan Teheran untuk menyerah, pendekatan keras Washington justru berbalik arah dan membuat negosiasi menemui jalan buntu.
Kesalahan kalkulasi tersebut terlihat dari keyakinan AS bahwa tekanan militer dan politik bisa memaksa Iran tunduk. Namun kenyataannya, Iran tetap teguh pada posisinya, bahkan saat menghadapi tekanan besar dari AS dan sekutu.
Buntunya perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu menjadi bukti nyata kegagalan strategi tersebut. Kedua pihak tidak menemukan titik temu, terutama dalam isu krusial seperti program nuklir Iran.
Mantan diplomat AS, Chas Freeman, bahkan menyebut pertemuan itu sejatinya bukan negosiasi. Dia menilai AS hanya menyampaikan ultimatum kepada Iran agar menyerah di meja perundingan.
Tahan Juventus 1-1, Pelatih Sassuolo Ungkap Jay Idzes Dkk Sempat Terserang Wabah Jelang Laga!
“Ini bukan negosiasi, melainkan penyampaian ultimatum AS. AS menuntut agar Iran menyerah atas apa yang telah ditolaknya di bawah tekanan militer terberat,” ujarnya, kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti, dikutip Rabu (22/4/2026).
Freeman menambahkan, AS datang dengan asumsi keliru bahwa pihak yang mampu menghancurkan lawan akan memenangkan konflik. Dengan keyakinan tersebut, delegasi AS merasa berada di atas angin dan mencoba menekan Iran selama pembicaraan.
Namun, pendekatan itu justru menjadi bumerang. Iran, yang menganggap konflik ini sebagai ancaman eksistensial, menunjukkan keteguhan dan bergeming sedikit pun. Sementara itu, delegasi AS dinilai kurang memiliki pengalaman teknis dibandingkan tim Iran.
“Iran tetap teguh. Delegasi mereka terdiri dari diplomat berpengalaman dan ahli teknis, sementara tim AS memiliki banyak koneksi politik tapi kurang keahlian,” kata Freeman.
Perundingan yang berlangsung selama 21 jam itu gagal menghasilkan kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance pun pulang dengan tangan hampa.
Sehari setelah kegagalan tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan langkah keras dengan memblokade Selat Hormuz. Dia bahkan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintasi jalur vital tersebut.










