Mobil Listrik Booming di Tengah Kenaikan Harga BBM, EV Jadi Mesin Pertumbuhan Otomotif

Mobil Listrik Booming di Tengah Kenaikan Harga BBM, EV Jadi Mesin Pertumbuhan Otomotif

Otomotif | inews | Rabu, 22 April 2026 - 20:35
share

JAKARTA, iNews.id - Mobil listrik atau electric vehicle (EV) kini menjadi mesin pertumbuhan baru sektor otomotif nasional. Tren positif ini terlihat dari lonjakan penjualan sejak tahun lalu yang terus berlanjut hingga 2026, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan.

Permintaan EV diprediksi semakin meningkat, terutama setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mengalami kenaikan. Selain itu, selisih harga antara mobil listrik dan kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) semakin menyempit, sehingga membuat EV kian terjangkau.

Dari sisi teknologi, kendaraan listrik juga mengalami peningkatan signifikan. Kini, jarak tempuh EV dapat mencapai hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian penuh, sehingga mampu mengurangi kekhawatiran pengguna terkait keterbatasan jarak tempuh atau range anxiety.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan perubahan signifikan di pasar otomotif. Kontribusi mobil ICE turun drastis dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025. Sementara itu, porsi battery electric vehicle (BEV) melonjak dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada periode yang sama.

Memasuki Maret 2026, pangsa BEV kembali naik menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE turun menjadi 75 persen. Penjualan BEV tercatat melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari sebelumnya 16.926 unit. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan industri otomotif secara keseluruhan yang hanya sebesar 1,7 persen.

Sebaliknya, penjualan mobil ICE justru mengalami penurunan dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diproyeksikan mencapai kisaran 19 hingga 20 persen.

Namun, perubahan kebijakan pajak daerah turut menjadi perhatian. Mulai 1 April 2026, berdasarkan Permendagri Nomor 11 Tahun 2026, mobil listrik tidak lagi otomatis bebas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Kebijakan insentif kini diserahkan kepada pemerintah daerah.

Para pelaku industri menyarankan agar pemerintah daerah menerapkan tarif pajak progresif guna menjaga momentum pertumbuhan EV. Kendaraan listrik dengan harga di atas Rp500 juta dapat dikenakan tarif lebih tinggi, sementara di bawah Rp300 juta sebaiknya mendapat tarif lebih rendah.

Di sisi lain, plug in hybrid electric vehicle (PHEV) dinilai berpotensi menjadi solusi transisi dari kendaraan konvensional ke listrik murni. Teknologi ini memungkinkan penggunaan mode listrik untuk aktivitas harian di dalam kota, namun tetap didukung mesin berbahan bakar untuk perjalanan jarak jauh.

Kondisi tersebut dinilai relevan dengan Indonesia, terutama dalam menjawab ketimpangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Dengan fleksibilitas tersebut, PHEV dianggap layak mendapatkan tambahan insentif.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta mengatakan pemerintah terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

"Sebab itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujarnya dalam diskusi “Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle” yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Menurut data Kementerian Perindustrian, saat ini terdapat 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun. Selain itu, ada 68 perusahaan sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun dan sembilan perusahaan bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun.

Total investasi di sektor kendaraan listrik telah mencapai Rp25,674 triliun. Sementara itu, populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 358.205 unit, didominasi oleh sepeda motor listrik sebanyak 236.451 unit.

Pertumbuhan ini menunjukkan tren yang sangat positif dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) di atas 140 persen dalam lima tahun terakhir.

Setia menyebut terjadi perubahan preferensi konsumen yang kini mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi transformasi industri otomotif nasional. “Kami ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, tetapi terus berkembang menuju pendalaman struktur industri, termasuk baterai, komponen utama, dan rantai pasok nasional,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai industri otomotif Indonesia tengah mengalami perubahan struktural besar. Dominasi kendaraan berbahan bakar fosil mulai terkikis seiring meningkatnya adopsi kendaraan elektrifikasi.

“Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,” ujarnya.

Dia menyebut BEV kini menjadi primadona dengan pangsa pasar mencapai 15,9 persen per Maret 2026, bahkan melampaui hybrid electric vehicle (HEV).

Dari sisi industri, BYD Indonesia menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air. Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan mengatakan, pihaknya terus memperluas jaringan dan menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan pasar.

“Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin bangun value chain. Dari sisi jaringan, kami kini memiliki 84 dealer di 48 kota,” katanya.

Penjualan BYD tercatat meningkat 65 persen hingga Maret 2026 dengan pangsa pasar mencapai 41 persen, tertinggi di Indonesia.

Sementara itu, CEO Degree Synergy International Andrea Suhendra menilai pertumbuhan EV didorong semakin banyaknya pilihan model di pasar. Saat ini terdapat 74 model BEV, meningkat tajam dibandingkan 2021 yang hanya 11 model.

Selain itu, harga kendaraan listrik yang semakin kompetitif turut menjadi faktor utama. Kini, banyak model EV yang dibanderol di kisaran Rp300 juta, bahkan lebih rendah.

Dia memprediksi tren pertumbuhan kendaraan listrik akan terus berlanjut, meski ada penyesuaian kebijakan pajak daerah. Menurutnya, konsumen tetap akan memilih EV karena biaya kepemilikan yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

“PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, karena bisa menjadi jembatan transisi untuk konsumen yang belum sepenuhnya siap ke BEV,” katanya.

Topik Menarik