Mengenal Istilah Seagulling, Lebih Toxic dari Ghosting?

Mengenal Istilah Seagulling, Lebih Toxic dari Ghosting?

Gaya Hidup | inews | Selasa, 28 April 2026 - 21:45
share

JAKARTA, iNews.id - Istilah seagulling kini menjadi perhatian di tengah tren hubungan modern yang semakin kompleks di era digital. Fenomena ini ramai dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda, karena dianggap lebih membingungkan dibanding ghosting.

Dalam dunia dating saat ini, berbagai istilah baru terus bermunculan. Salah satunya adalah seagulling, yang menggambarkan pola hubungan tidak sehat dan cenderung merugikan secara emosional.

Dikutip dari Psychology Today, seagulling merujuk pada perilaku seseorang yang sebenarnya tidak memiliki ketertarikan romantis serius, namun tetap berusaha “menahan” orang lain agar tidak didekati pihak lain.

Kata lain, pelaku seagulling tidak ingin menjalin komitmen, tetapi juga tidak rela jika orang yang didekatinya menjalin hubungan dengan orang lain. Istilah ini terinspirasi dari perilaku burung camar yang kerap mengambil makanan meski tidak lapar, hanya agar tidak dimiliki oleh pihak lain.

Fenomena ini banyak terjadi di kalangan Gen Z yang aktif dalam dunia digital dan aplikasi kencan. Pola hubungan seperti ini sering kali sulit dikenali pada awalnya, karena dibungkus dengan interaksi yang tampak normal.

Ada beberapa tanda yang bisa dikenali jika seseorang mengalami seagulling. Misalnya, masih sering diajak jalan atau chatting, namun hubungan tidak pernah memiliki kejelasan arah.

Selain itu, korban biasanya hanya diberi harapan kecil agar tetap bertahan. Pelaku juga cenderung menunjukkan sikap “posesif” atau territorial ketika orang tersebut mulai dekat dengan orang lain.

Paling mencolok, hubungan tidak pernah berkembang ke tahap yang lebih serius meskipun sudah berjalan cukup lama.

Lantas, apa yang mendorong seseorang melakukan seagulling? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perilaku ini.

Mulai dari keinginan untuk tetap mendapatkan perhatian dan kenyamanan, hingga kebutuhan akan kontrol emosional terhadap orang lain. Tak sedikit juga yang melakukannya demi meningkatkan ego, karena merasa masih diinginkan.

Selain itu, ada pula faktor ketidaksiapan untuk berkomitmen. Pelaku tidak ingin kehilangan, tetapi juga tidak mau benar-benar terikat dalam hubungan yang serius.

Akibatnya, hubungan yang terjalin hanya menjadi alat pemenuhan kebutuhan emosional sepihak. Hal ini tentu membawa dampak negatif, baik bagi korban maupun pelaku.

Bagi korban, seagulling dapat menimbulkan kebingungan, rasa tidak pasti, hingga kesulitan untuk move on. Waktu dan energi emosional pun terbuang untuk hubungan yang tidak jelas arahnya.

Sementara itu, pelaku juga berisiko kehilangan kesempatan untuk menemukan pasangan yang benar-benar cocok dan membangun hubungan sehat.

Untuk menghindari jebakan seagulling, penting bagi setiap individu menetapkan batasan sejak awal. Komunikasi terbuka mengenai ekspektasi hubungan juga menjadi kunci agar tidak terjebak dalam situasi yang merugikan.

Selain itu, perhatikan konsistensi tindakan, bukan hanya kata-kata. Jangan ragu untuk mempertanyakan arah hubungan jika terasa berjalan di tempat.

Pada akhirnya, komunikasi yang jujur dan terbuka menjadi cara paling efektif untuk menghindari pola hubungan tidak sehat seperti seagulling.

Topik Menarik