Kulit Gatal dan Merah setelah Pakai Parfum? Ini Penyebabnya

Kulit Gatal dan Merah setelah Pakai Parfum? Ini Penyebabnya

Gaya Hidup | inews | Rabu, 3 Juni 2026 - 08:46
share

JAKARTA, iNews.id – Banyak orang menyemprotkan parfum langsung ke area leher atau kulit untuk mendapatkan aroma yang lebih tahan lama. Namun, pada sebagian orang, kebiasaan ini justru dapat memicu munculnya rasa gatal, kemerahan, hingga iritasi pada kulit.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr Adam Prabata, menjelaskan risiko yang lebih mungkin terjadi akibat penggunaan parfum langsung pada kulit bukanlah kanker atau gangguan tiroid, melainkan dermatitis atau peradangan kulit.

Penjelasan tersebut disampaikan menyusul ramainya informasi di media sosial yang menyebut menyemprotkan parfum di area leher dapat menyebabkan gangguan tiroid hingga kanker. Menurut dr Adam, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang mendukung klaim tersebut.

"Izin menjelaskan ya! Nah sebetulnya hingga saat ini BELUM ADA BUKTI KUAT bahwa menyemprot parfum di area leher itu bisa meningkatkan risiko penyakit tiroid atau kanker di area leher," tulis dr Adam melalui akun X miliknya.

Dia menjelaskan, beberapa produk parfum memang mengandung bahan kimia tertentu yang dikenal sebagai endocrine-disrupting chemicals (EDC), seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Meski demikian, keberadaan zat tersebut tidak serta-merta membuat parfum menjadi penyebab kanker atau gangguan tiroid.

Menurut dr Adam, masalah yang lebih sering muncul justru reaksi pada kulit akibat paparan langsung bahan-bahan dalam parfum. Kondisi ini dapat memicu dermatitis dengan gejala berupa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, kulit kering, hingga iritasi pada area yang terkena semprotan parfum.

"Nah tapi yang perlu diperhatikan adalah sifatnya itu zatnya terakumulasi di tubuh, dapat melalui jalur mana saja, TIDAK KHUSUS karena disemprotkan di leher," katanya.

Sebab itu, masyarakat disarankan memperhatikan reaksi kulit setelah menggunakan parfum. Jika muncul tanda-tanda iritasi, penggunaan parfum pada area kulit sensitif sebaiknya dihentikan dan diganti dengan cara penyemprotan pada pakaian atau area yang tidak menimbulkan reaksi.

dr Adam kembali menegaskan hingga saat ini bukti ilmiah mengenai hubungan langsung antara penyemprotan parfum di leher dengan kanker maupun gangguan tiroid masih belum kuat. Sebaliknya, risiko yang lebih nyata dan telah dikenal adalah dermatitis atau peradangan kulit.

"Bukti ilmiah menyemprotkan parfum langsung di leher terhadap terjadinya penyakit tiroid dan kanker masih belum kuat. Risiko yang dapat muncul akibat menyemprotkan parfum di leher adalah dermatitis," katanya.

Topik Menarik