AS Akan Serang Iran Habis-habisan jika Terus Ulur Waktu Sepakati Perdamaian
DUBAI, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang Iran habis-habisan jika Teheran terus mengulur waktu untuk mencapai kesepakatan damai. Ancaman itu disampaikan setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran pada Rabu (10/6/2026).
Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker mengatakan, Trump siap mengerahkan seluruh potensi militer apabila Iran tetap menolak mencapai kesepakatan damai dalam waktu yang dianggap wajar oleh Washington.
"Jika Iran tidak bersedia membuat kesepakatan dalam jangka waktu bijaksana, maka dia (Trump) akan menggunakan seluruh kekuatan militer yang luar biasa, yang dimiliki AS, untuk membuat situasi di mana Iran akan membuat kesepakatan," kata Whitaker, kepada Fox News, dikutip Kamis (11/6/2026).
Sebelumnya, dalam posting-an di akun Truth Social, Trump menilai Iran terlalu lama bernegosiasi dan tidak menunjukkan iktikad untuk segera menyepakati perdamaian. Karena itu, dia memperingatkan Teheran harus menghadapi konsekuensi berat atas sikap tersebut.
"Si pengganggu Timur Tengah telah mati!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayarnya," tulis Trump.
Ketegangan meningkat setelah AS menyerang beberapa lokasi di Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Trump menuduh militer Iran menembak jatuh helikopter tempur AH-64 Apache yang sedang berpatroli di dekat Selat Hormuz pada Senin. Dua kru helikopter dilaporkan berhasil diselamatkan menggunakan drone laut.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania serta sejumlah negara Teluk. Serangan menggunakan rudal dan drone itu menyasar 22 lokasi di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Bentrokan terbaru ini menjadi konflik bersenjata terbesar kedua antara AS dan Iran sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada 8 April lalu.
Trump menegaskan pembalasan yang dilakukan AS merupakan respons yang menurutnya layak diberikan terhadap tindakan Iran.
“Saya yakin pembalasannya harus sangat keras, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi kali ini,” ujar Trump, dalam wawancara dengan ABC News.
Di sisi lain, Iran menuduh AS justru merusak upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tindakan Washington telah menghambat berbagai inisiatif internasional untuk mengakhiri konflik.
“Sayangnya, AS merusak proses diplomatik ini melalui pesan-pesan kontradiktif yang dikirimkannya, perubahan sikap, dan tuntutan berulang-ulang, dan yang terburuk, melalui pelanggaran gencatan senjata berulang kali,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmaeil Baghaei.
Menurut Baghaei, setiap proses diplomatik akan sulit berhasil apabila diiringi penggunaan kekerasan dan tindakan yang dianggap melanggar hukum internasional di lapangan.










