Bahlil Buka Opsi Revisi Harga Batu Bara PLN di Tengah Kendala Pasokan
JAKARTA, iNews.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia merespons keluhan dari kalangan pengusaha terkait harga batu bara bagi PT PLN (Persero). Belum lagi, dikaitkan dengan tantangan menjaga pasokan dan meningkatnya biaya produksi.
Adapun, harga jual komoditas batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri saat ini masih mengacu pada ketentuan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 70 dolar AS per ton.
Di sisi lain, para penambang harus menghadapi kenyataan berupa membengkaknya ongkos produksi di lapangan, yang tecermin dari tingginya rasio pengupasan tanah atau stripping ratio (SR) yang kini bertengger di rentang 8 persen hingga 12 persen.
Kondisi beban operasional yang terlampau tinggi ini dinilai tidak lagi seimbang dengan ketentuan harga jual yang rendah untuk keberlanjutan roda bisnis pertambangan.
"Untuk medium ini kan SR-nya sudah di 8-12 persen, cost produksinya kan udah tinggi. Jadi kita juga harus membijaksanai agar teman-teman pengusaha juga jangan juga dibeli dengan harga yang sangat murah. Kalau beli harganya rugi enggak mungkin juga. Karena pengusaha juga kan harus jaga agar mereka tidak rugi ucapnya," kata Bahlil di Kompleks Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Terkait dengan keluhan dari para pelaku usaha mengenai ketetapan harga batu bara acuan (HBA) yang dinilai belum pernah disesuaikan sejak tahun 2019 di tengah tren lonjakan biaya produksi, Bahlil menyatakan pihaknya menaruh perhatian serius terhadap aspirasi tersebut.
"Betul, itu salah satu pertimbangan yang akan kita hitung," tuturnya.
Bahlil menjelaskan, pemerintah tengah melakukan kajian komprehensif mengenai kalkulasi untung-rugi dari skema harga DMO saat ini. Tujuannya adalah merumuskan kebijakan yang adil agar PLN terhindar dari potensi kerugian, sementara para pelaku usaha pertambangan juga tetap bisa mempertahankan kelayakan bisnis mereka.
"Lagi kita menghitung plus minus agar PLN-nya juga tidak dirugikan dan pengusahanya juga tidak dirugikan," kata dia.
Dia juga tidak membantah adanya hambatan pada hari operasi pembangkit (HOP) milik PLN yang dipicu oleh minimnya suplai batu bara dengan kalori menengah atau sebesar 5.200 kcal/kg GAR.
Adapun Kementerian ESDM juga sempat mencatat hanya sekitar 5 persen yang memiliki nilai kalori di atas 6.000 kcal/GAR dari total cadangan batubara nasional sebesar 31 miliar ton. Sehingga jika sektor industri bergantung kuat lini operasionalnya pada batubara kalori tinggi, maka bakal mengancam kelangsungan bisnis.
Bahlil mengakui bahwa persoalan ini tidak terlepas dari kecenderungan menyusutnya kualitas kandungan kalori pada hasil produksi batu bara domestik.
"Itu ada kendala memang sedikit terhadap batu bara yang medium kalori, yang 5.200. Kita kan tahu bahwa sekarang kan kalori batu bara kita ini kan semakin hari semakin rendah. Nah ini yang kita lagi cari solusinya, tapi secara yang lainnya enggak ada masalah," ujarnya.










