5 Fakta Kontroversi Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran, Nomor 4 Bikin Emosi!
SOLO, iNews.id — Nama Rahadian M Saputra mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah aksinya mengikuti Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, viral dan menuai kontroversi. Dalam acara adat yang dikenal sakral itu, Rahadian mengenakan kebaya hitam lengkap dengan sanggul yang identik dengan busana perempuan.
Penampilannya langsung memancing reaksi publik. Banyak warganet, budayawan, hingga pemerhati budaya Jawa mempertanyakan keputusan Rahadian mengenakan busana yang dinilai tidak sesuai dengan pakem yang berlaku dalam prosesi Kirab Malam 1 Suro. Polemik pun semakin meluas dan menjadi bahan perdebatan di berbagai platform media sosial.
Setelah beberapa hari menjadi sorotan, Rahadian akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya. Dia mengakui kesalahan dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas tindakannya.
Berikut lima fakta mengenai polemik pria berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran yang ramai diperbincangkan publik.
5 Fakta Kontroversi Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran
1. Tampil Berkebaya di Acara Sakral Mangkunegaran
Polemik bermula saat Rahadian mengikuti Kirab Malam 1 Suro yang digelar Pura Mangkunegaran. Dalam sejumlah foto dan video yang beredar, dia terlihat mengenakan kebaya hitam, kain batik, serta sanggul.
Penampilan tersebut menjadi sorotan karena peserta laki-laki dalam kirab umumnya mengenakan beskap lengkap dengan kain jarik sesuai pakem yang berlaku dalam tradisi tersebut.
2. Viral dan Dihujani Kritik Publik
Tak butuh waktu lama, foto-foto Rahadian langsung menyebar luas di media sosial. Banyak pihak menilai tindakannya tidak sesuai dengan aturan busana dalam acara adat yang sarat nilai budaya dan tradisi Jawa.
Sejumlah budayawan dan pemerhati budaya juga ikut memberikan kritik. Mereka menilai persoalan utama bukan soal pilihan pakaian semata, melainkan penghormatan terhadap tata aturan yang berlaku dalam prosesi budaya tersebut.
3. Sempat Disebut Sudah Mendapat Izin
Di tengah ramainya kritik, muncul informasi bahwa Rahadian disebut telah memperoleh izin untuk mengenakan kebaya saat mengikuti kirab.
Informasi tersebut beredar melalui media sosial dan kolom komentar yang kemudian memicu perdebatan baru. Sebagian masyarakat mempertanyakan kebenaran izin tersebut, sementara yang lain menilai bahwa izin tidak serta-merta menghilangkan polemik terkait kepatuhan terhadap pakem adat.
4. Pernyataannya soal Pakaian Tidak Memiliki Gender Bikin Emosi Publik
Salah satu momen yang paling banyak memicu reaksi publik adalah ketika beredar pernyataan Rahadian yang menyebut bahwa pakaian tidak memiliki jenis kelamin atau gender.
Pernyataan tersebut langsung menuai pro dan kontra. Sebagian pihak mendukung pandangan tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi dalam berpakaian.
Deteksi Begal dan Tawuran, Pemprov Jakarta Integrasikan 24.000 CCTV dengan Polda Metro Jaya
Namun, banyak warganet justru merasa emosi karena menilai persoalan yang dipermasalahkan bukan sekadar soal busana, melainkan konteks acara adat yang memiliki aturan dan nilai budaya tertentu. Menurut mereka, perdebatan tidak lagi berkaitan dengan gender pakaian, tetapi soal penghormatan terhadap tradisi yang dijalankan dalam lingkungan Mangkunegaran.
5. Akhirnya Minta Maaf dan Akui Kesalahan
Setelah polemik berlangsung selama beberapa hari, Rahadian akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui video yang diunggah di Instagram.
Dalam pernyataannya, dia mengakui sepenuhnya kesalahan karena mengenakan busana perempuan dalam acara sakral tersebut.
"Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu. Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya," ujar Rahadian, dikutip Jumat (19/6/2026).
Dia juga mengakui tindakannya menunjukkan kurangnya pemahaman dan penghormatan terhadap nilai adat dan budaya. Rahadian kemudian meminta maaf kepada keluarga besar Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa, serta masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung atas tindakannya.
Selain itu, dia berjanji menjadikan kritik yang diterimanya sebagai pelajaran dan tidak akan mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang.










