Iran Beberkan Alasan Walk Out saat Negosiasi dengan AS, Singgung Trump
TEHERAN, iNews.id - Kepala juru runding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengungkap alasan delegasinya walk out saat berunding dengan perwakilan Amerika Serikat (AS) di Swiss akhir pekan lalu. Dia menjelaskan, delegasinya walk out setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap Iran di media sosial saat negosiasi berlangsung.
Ghalibaf menegaskan, Iran mengikuti perundingan tersebut, namun tetap mempertahankan sikap tegas yakni menentang dialog langsung dengan AS. Perundingan lanjutan tersebut berlangsung atas mediator Pakistan dan Qatar.
"Kami memiliki prinsip, dan sampai sekarang kami tidak pernah ingin menjadi bagian dari dialog yang setara (langsung) dengan AS," katanya, seperti dikutip dari kantor berita Tasnim, dikutip Selasa (23/6/2026).
Dia melanjutkan, negara-negara mediator bersikeras AS dan Iran bisa berdiskusi secara langsung. Namun pihak Iran menegaskan hanya ingin terlibat dalam negosiasi, bukan diskusi langsung dengan AS.
"Di tengah pembicaraan, saya menyadari Trump mengeluarkan ancaman terhadap Presiden (Masoud Pezeshkian), tim negosiasi, serta akan menyerang wilayah kami," kata Ghalibaf.
Dia lalu membahas ancaman tersebut dengan Wakil Presiden JD Vance selaku ketua juru runding AS.
Ghalibaf menegaskan, pernyataan Trump tersebut melanggar nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai yang ditandatangani kedua pihak.
"Saya memberi tahu Vance bahwa kami berada di sini untuk bernegosiasi, bahwa klausul pertama dari MoU yang ditandatangani melarang ancaman dan penggunaan kekerasan. Namun presiden Anda mengeluarkan ancaman hari ini," ujarnya.
"Anda harus paham, kami tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman atau kekerasan."
Setelah itu delegasi Iran mengakhiri pertemuan lalu pergi dan tidak kembali lagi.
Ghalibaf melanjutkan, delegasi AS kemudian meminta pertemuan lain dengan mediator. Namun Iran tak mengakui usulan tersebut.
"Pihak Amerika bersikeras untuk mengadakan pertemuan lain dengan kehadiran mediator, yang kami tolak," ujarnya.
Setelah itu mediator Qatar dan Pakistan kemudian bertemu dengan delegasi Iran.
"Mediator Qatar dan Pakistan datang kepada kami, dan kami memberi tahu mereka bahwa kami akan bicara, tapi kami tidak akan berbicara dengan pihak AS," tuturnya.
Diskusi berlangsung sekitar 80 menit dan diakhiri dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh mediator Pakistan dan Qatar.
Trump, dalam pernyataan di mkun Truth Social pada Minggu (21/6/2026), mendesak Iran segera menghentikan kelompok proksinya untuk tidak berbuat ulah di Lebanon, merujuk pada Hizbullah. Jika tak menyanggupinya, AS mengancam akan menyerang Iran dengan sangat keras.
"Jika mereka tidak melakukannya, kami akan kembali menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan pekan lalu," tulis Trump.
Stasiun televisi Fox News juga melaporkan, Trump berbicara dengan warga Iran seraya memperingatkan, jika Selat Hormuz terus ditutup, negara tersebut akan lenyap.
"Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian," kata Trump, seraya melanjutkan AS bisa saja mengambil alih Selat Hormuz.
Trump juga menyarankan Presiden Pezeshkian untuk menjaga ucapannya. Hal itu merujuk pada pernyataan Pezeshkian bahwa Iran memiliki hak untuk melanjutkan pengayaan uranium.
"Dia lebih baik memperbaiki diri atau kami akan mengambil alih negara itu," kata Trump.










