Ungkap Rencana Pembunuhan, Trump: 1.000 Rudal Disiapkan Serang Iran
TEHERAN, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan, militernya akan menyerang Iran habis-habisan jika berusaha membunuhnya. Menurut Trump, AS telah menyiapkan ribuan rudal untuk menyerang Iran.
Trump menegaskan, AS siap merespons jika pemerintah Iran benar-benar menyiapkan rencana untuk membunuhnya.
“1.000 rudal telah siap diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya segera menyusul,” kata Trump, dalam posting-an di akun media sosial Truth Social, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Dia menambahkan telah mengeluarkan perintah untuk serangan tersebut. Militer AS siap menghancurkan dan memusnahkan Iran sepenuhnya dalam setahun, dengan kemungkinan perpanjangan.
Trump mengeklaim, Iran telah mengincarnya selama beberapa tahun, tanpa memberikan bukti.
Sebelumnya, Trump mengatakan dia menjadi target Iran. Pemicunya Iran ingin membalas dendam atas operasi militer AS yang menewaskan komandan militer pasukan elite Quds, Qasem Soleimani, pada 2020.
Tyo Nugros Dicekal Keluar Negeri hingga Batal Ikut Konser Dewa 19 di Malaysia, Imigrasi Buka Suara
Selain itu dalam wawancara dengan The New York Post, Trump mengatakan telah memberi instruksi kepada militer untuk melakukan serangan skala besar jika Iran berhasil membunuhnya.
“Saya sudah lama masuk dalam daftar target mereka,” kata Trump, seraya menambahkan para pejabat telah diperintahkan mengebom Iran pada level yang belum pernah dialami negara itu sebelumnya.
Namun Trump berharap hal itu tidak terjadi.
Sebelumnya, di sela KTT NATO di Turki, Trump mengatakan kesepakatan gencatan senjata AS-Iran telah berakhir, seraya menuduh Teheran mengingkari janji MoU Islamabad atau gencatan senjata.
Meski demikian dia menegaskan, perundingan tetap dilanjutkan.
Merespons ancaman Trump, para pejabat Iran menegaskan siap untuk membela diri dan tidak akan menyerah.
Mereka juga menuduh AS sengaja meningkatkan ketegangan, seraya menegaskan negaranya memiliki hak untuk membalas serangan apa pun.
Ketegangan terbaru AS-Iran terus memengaruhi kawasan.
Selain itu komentar-komentar dari pejabat kedua negara menambah ketidakpastian seputar nasib kesepakatan damai permanen.









