Kekeringan Landa Lobar, Legislator Partai Perindo Desak BPBD Siagakan Tangki Air 24 Jam

Kekeringan Landa Lobar, Legislator Partai Perindo Desak BPBD Siagakan Tangki Air 24 Jam

Nasional | inews | Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:37
share

LOMBOK BARAT, iNews.id - Kekeringan mulai memaksa warga Kabupaten Lombok Barat menempuh perjalanan berkilometer demi mendapatkan air bersih. Kondisi itu terjadi di tiga dusun di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, saat NTB memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Di tengah kondisi tersebut, Anggota DPRD Lombok Barat sekaligus Ketua DPD Partai Perindo Lombok Barat Syamsuriansyah menilai respons Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) terhadap kebutuhan air bersih warga masih terlalu lambat.

“Saya selalu berbicara terkait dengan fast response dan slow response pemerintah daerah dalam menangani bencana di daerah ini,” kata Syamsuriansyah dikutip, Rabu (26/8/2026).

Menurut dia, persoalan tersebut bukan kali pertama disampaikan kepada pemerintah daerah. Beberapa bulan sebelumnya, dia telah menyampaikan pentingnya strategi penanganan bencana agar organisasi perangkat daerah (OPD) dapat merespons kondisi di lapangan secara cepat.

Legislator Perindo Syamsuriansyah mendesak BPBD menyiagakan tangki air 24 jam untuk warga terdampak kekeringan di Lombok Barat. (Foto: ist)

“Saya kira apa yang pernah saya sampaikan itu harusnya sudah dicerna dengan cepat oleh teman-teman di OPD. Tapi saya dapat lagi informasi terkait dengan telatnya atau slow response-nya teman-teman di BPBD terkait dengan penanganan bencana ataupun kekeringan yang ada di Kabupaten Lombok Barat,” ujarnya.

Kondisi kekeringan tersebut berlangsung ketika NTB diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026 yang mencakup sekitar 89–93 wilayah. Berdasarkan data BMKG Juli 2026, curah hujan pada periode tersebut diperkirakan sangat rendah, yakni 0–10 milimeter per dasarian, dengan peluang curah hujan tinggi di bawah 20 di sebagian besar wilayah.

Musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang, sekitar 25–27 dasarian atau 8 hingga 9 bulan, sementara sejumlah titik di NTB mencatat hari tanpa hujan ekstrem hingga lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut membuat penyediaan air bersih menjadi kebutuhan yang semakin mendesak bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Syamsuriansyah menyoroti kondisi warga di Gunungsari yang harus mencari air untuk kebutuhan sehari-hari meski wilayah tersebut berada dekat dengan bendungan. Dia mempertanyakan kondisi tersebut karena masyarakat masih harus menempuh perjalanan untuk mendapatkan air.

“Jangan sampai warga kita ini, apalagi di daerah Gunungsari yang kebetulan dekat sekali dengan bendungan, lalu tiba-tiba inaq-inaq, amaq-amaq kita ini ngambil air untuk kebutuhan mereka, sementara di samping kiri-kanan mereka itu adalah bendungan yang tentu bendungan ini adalah sumbernya air,” katanya.

Menurut Syamsuriansyah, distribusi air bersih harus dilakukan secara berkelanjutan karena air merupakan kebutuhan primer masyarakat. Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah menyiapkan tangki air selama 24 jam untuk dikirimkan ke wilayah yang terdampak kekeringan.

“Karena air yang diambil oleh masyarakat itu tidak hanya cukup dengan satu hari saja. Kebutuhan air ini adalah kebutuhan primer, bukan kebutuhan sekunder. Jadi, suka atau tidak suka, teman-teman harus menyiapkan 24 jam tangki air untuk dikirimkan ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan,” ucapnya.

Topik Menarik