Destry Damayanti Jalani Fit and Proper Test Gubernur BI, Paparkan 5 Strategi Baru untuk Rupiah hingga QRIS

Destry Damayanti Jalani Fit and Proper Test Gubernur BI, Paparkan 5 Strategi Baru untuk Rupiah hingga QRIS

Berita Utama | inews | Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:04
share

JAKARTA, iNews.id - Destry Damayanti menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) di Gedung DPR RI, Rabu (26/8/2026). Dalam pemaparannya, dia menyiapkan lima strategi baru untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Destry yang saat ini menjabat Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI menekankan arah kebijakan tersebut berangkat dari pengalaman dan pemahaman selama menjadi Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019.

Dia menyoroti perubahan kondisi global yang ditandai ketegangan geopolitik, gejolak pasar keuangan, serta perkembangan digitalisasi yang berlangsung cepat. Di tengah tantangan tersebut, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan.

“Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa menjaga stabilitas saja belum cukup,” ujarnya.

Ketahanan ekonomi tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, inflasi Juli 2026 berada di level 2,88 persen dan masih dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Meski demikian, Destry mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat seluruh pemangku kepentingan berpuas diri. Optimalisasi undisbursed loan, penyaluran kredit UMKM, serta penguatan daya beli masyarakat masih membutuhkan dorongan lanjutan.

Jika dipercaya memimpin BI, Destry membawa visi menjadikan bank sentral sebagai lembaga yang adaptif, relevan, dan kredibel dalam menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Visi tersebut ditopang tiga misi utama. Pertama, menjaga stabilitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi. Kedua, berkontribusi langsung dalam mendukung ekonomi berkelanjutan. Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui skema sinergi merah putih.

Untuk menjalankan visi tersebut, Destry menyiapkan lima inisiatif strategis. Fokusnya mencakup penguatan bauran kebijakan BI, revitalisasi kebijakan lalu lintas devisa, pengembangan keuangan inklusif dan hijau, inovasi tata kelola kelembagaan, serta penguatan sinergi nasional.

Pada sektor moneter, stabilitas nilai tukar rupiah akan diperkuat melalui intervensi terukur dan operasi moneter yang adaptif. Sementara di sektor makroprudensial, fasilitas likuiditas diarahkan untuk mendukung sektor-sektor yang menjadi prioritas nasional.

Digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS juga akan terus dikembangkan. Namun, kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai tetap menjadi perhatian.

“Bank Indonesia akan tetap memastikan ketersediaan rupiah yang berkualitas dan layak edar di seluruh wilayah NKRI termasuk daerah 3T,” katanya.

Destry juga mendorong 46 kantor perwakilan BI di berbagai daerah agar berperan sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Peran tersebut diarahkan untuk mendorong hilirisasi, industrialisasi, serta pengembangan ekonomi kerakyatan.

Menurut Destry, sinergi menjadi modal utama untuk menjalankan seluruh program prioritas bank sentral.

“Kami meyakini bahwa keberhasilan Bank Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan bekerja sendiri melainkan oleh kemampuan membangun sinergi merah putih bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Destry.

Dia menutup pemaparannya dengan menegaskan prinsip 3I dan 1S sebagai landasan eksekusi kebijakan BI ke depan. Prinsip tersebut mencakup impactful, inklusif, dan integrasi yang dijalankan melalui sinergi.

“Dan buat kami, sinergi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang menyatukan kekuatan, saling melengkapi, dan melangkah seirama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang dapat diraih kalau kita bekerja sendirian,” ungkap Destry.

Topik Menarik