Kisah 900 Siswa SMA Nepal Lolos dari Terjangan Banjir, Bus Terakhir Nyaris Dihantam Gelombang

Kisah 900 Siswa SMA Nepal Lolos dari Terjangan Banjir, Bus Terakhir Nyaris Dihantam Gelombang

Terkini | inews | Rabu, 2 September 2026 - 03:03
share

KATHMANDU, iNews.id - Rajendra Dawadi, kepala sekolah SMA Tribhuvan Trishuli, Nepal, mengungkap 900 siswanya lolos dari terjangan banjir bandang dahsyat pada 26 Agustus lalu. Staf akuntan sekolah memberi peringatan beberapa menit sebelum banjir besar menerjang.

Sekolah yang dipimpin Dawadi berada di tepi sungai yang dilalui gelombang dahsyat, di Bidur, Distrik Nuwakot.

Peringatan itu direspons dengan tindakan segera untuk mengevakuasi sekitar 900 siswa dan 16 staf.

Menurut Dawadi, sang akuntan mendapat telepon dari kerabatnya di Rasuwa, distrik yang pertama kali diterjang banjir. Mereka hanya memiliki waktu 14 menit untuk evakuasi.

“Kami langsung berteriak: Hentikan pelajaran, bunyikan bel,” kata Dawadi, kepada Reuters, mengenang kembali peristiwa itu, dikutip Rabu (2/9/2026).

Dibangun kembali setelah gempa bumi dahsyat Nepal pada 2015 yang menewaskan sekitar 9.000 orang, bangunan SMA Tribhuvan Trishuli berdiri di semacam semenanjung, terjepit di antara Sungai Trishuli dan kanal pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Akibat hantaman banjir bandang yang membawa batu dan pepohonan, bangunan sekolah lenyap. Lokasinya kini menjadi seperti di dasar sungai.

Lebih dari 900 siswa sekolah, dari total sekitar 1.600, berada di bangunan itu saat peringatan disampaikan. Siswa lainnya masih di perjalanan menuju sekolah.

Dawadi langsung menginstruksikan bus yang membawa siswa lain menuju sekolah, mengalihkan tujuannya dan mencari tempat aman.

Sebelum banjir menerjang, orang tua sudah datang untuk menjemput anak-anak mereka. Sementara siswa lain yang tak dijemput dievakuasi ke tempat aman menggunakan bus atau berlari ke tempat lebih tinggi.

Pada saat bus terakhir menyeberangi jembatan terdekat di atas sungai, gelombang air menerjang kota berpenduduk 60.000 jiwa itu.

"Saat bus kami menyeberangi jembatan baru, jembatan lama runtuh,” kata Dawadi.

Berkat kesigapannya, Dawadi dipuji banyak orang tua karena menyelamatkan anak-anak mereka. 

“Dia menyelamatkan nyawa putri saya dan banyak anak lainnya,” kata Man Maya Tamang (50), orang tua siswa.

Topik Menarik