Pakar: Bulan Purnama Harvest Moon Bukan Pertanda Gempa atau Erupsi
JAKARTA, iNews.id - Fenomena bulan purnama Harvest Moon pada Sabtu (26/9/2026) malam bukan pertanda akan terjadi gempa maupun erupsi gunung api. Namun, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir perlu mewaspadai potensi banjir rob akibat pasang laut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, Harvest Moon merupakan nama tradisional untuk purnama yang paling dekat dengan ekuinoks September. Secara fisik, fenomena tersebut tetap merupakan bulan purnama biasa.
"Harvest Moon tidak memicu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem. Tidak ada mekanisme fisika yang membuat nama 'Harvest Moon' mempunyai kemampuan khusus menghasilkan bencana. Yang memang nyata secara ilmiah adalah pengaruh konfigurasi Matahari – Bumi - Bulan terhadap pasang surut laut," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, saat purnama, matahari, bumi, dan bulan berada hampir segaris. Kondisi tersebut menghasilkan rentang pasang-surut yang disebut spring tide atau pasang purnama.
"Fenomena seperti ini sebenarnya terjadi sekitar dua kali setiap bulan lunar, yakni di sekitar bulan baru dan purnama, sehingga bukan sesuatu yang luar biasa atau hanya terjadi ketika Harvest Moon," ujarnya.
Daryono menegaskan, pasang purnama tidak secara otomatis menyebabkan banjir rob. Potensi genangan di pesisir dipengaruhi sejumlah faktor, seperti tinggi pasang lokal, angin yang mendorong air menuju pantai, gelombang, tekanan atmosfer, bentuk garis pantai dan dasar laut, hingga tinggi muka laut relatif terhadap daratan.
"Jika pasang tinggi bertepatan dengan cuaca laut buruk, genangan dapat menjadi lebih besar," katanya.
Pada periode 26-30 September 2026, terdapat potensi rob di sejumlah wilayah pesisir. Karena itu, masyarakat diminta mengikuti informasi prediksi pasang dan peringatan lokal dari lembaga berwenang.
Harvest Moon dan Gempa
Terkait anggapan Harvest Moon dapat memicu gempa, Daryono menjelaskan purnama memang menimbulkan earth tides atau pasang bumi, yakni deformasi sangat kecil pada kerak akibat gravitasi bulan dan matahari.
Namun, fenomena tersebut tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan lokasi gempa besar.
"Namun hal ini bukan berarti purnama dapat digunakan utk meramalkan kapan dan di mana gempa besar akan terjadi. Karena itu, munculnya Harvest Moon bukan alasan ilmiah utk mengatakan bahwa gempa atau tsunami akan segera terjadi," tuturnya.
Hal yang sama berlaku terhadap aktivitas gunung api. Menurut Daryono, aktivitas vulkanik terutama dipengaruhi dinamika magma, tekanan fluida dan gas, serta kondisi sistem vulkaniknya.
"Tidak ada dasar untuk menyebut Harvest Moon sebagai pemicu umum erupsi gunung api," ujarnya.
Harvest Moon Aman Diamati
Daryono mengimbau masyarakat tidak perlu takut mengamati Harvest Moon. Fenomena tersebut aman diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan bagi masyarakat yang tinggal di pesisir rendah atau wilayah yang telah mendapat peringatan pasang maksimum maupun rob.
"Yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah masyarakat di pesisir rendah dan wilayah yg telah mendapat peringatan pasang maksimum atau rob. Perhatikan informasi pasang-surut, amankan kendaraan dan barang dari lokasi yang biasa tergenang, serta hindari aktivitas di pantai apabila pasang tinggi bersamaan dgn gelombang atau cuaca laut buruk," kata Daryono.
Dia menekankan pentingnya membedakan fenomena astronomi dengan risiko bencana. Harvest Moon bukan pembawa bencana, tetapi pengaruh fisiknya yang paling relevan adalah terhadap pasang laut.
"Bahaya baru menjadi risiko ketika pasang tinggi bertemu dgn kondisi laut, lingkungan pesisir, serta paparan dan kerentanan masyarakat. Dengan demikian, Harvest Moon tdk perlu ditakuti, tetapi dinamika laut yg menyertainya tetap perlu dipahami dan diantisipasi," pungkasnya.










