Pesan Zainal Arifin Mochtar ke Pelaku Teror: Jangan Jualan Polisi untuk Nakutin Orang

Pesan Zainal Arifin Mochtar ke Pelaku Teror: Jangan Jualan Polisi untuk Nakutin Orang

Nasional | inews | Sabtu, 3 Januari 2026 - 11:05
share

JAKARTA, iNews.id - Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengungkap aksi teror telepon yang dialaminya. Secara tegas dia meminta pelaku tidak mengatasnamakan aparat penegak hukum untuk menakut-nakuti masyarakat tertentu.

Aksi teror tersebut disampaikan langsung oleh Zainal Arifin Mochtar melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @zainalarifinmochtar, pada Jumat (2/1/2026). Akademisi yang akrab disapa Uceng itu mengaku dihubungi nomor tak dikenal +62 838 17941429 yang menyampaikan pesan intimidatif dan bernada ancaman.

Menurut Uceng, modus teror telepon tersebut merupakan bentuk penipuan yang sebenarnya mudah dikenali. Dia menyayangkan praktik penipuan semacam ini masih marak terjadi dan dinilai kurang mendapatkan penanganan serius.

"Well, siapapun tau yg kayak beginian adalah penipuan dan gak jelas. Tololnya dia bisa menelpon berkali2. Tapi bagaimana pun di negeri ini penipu macam begini terlalu diberi ruang bebas. Nyaris nda pernah ada yg dikejar dengan serius. Data kita diperjual belikan dan berbagai tindakan scam lainnya," tulis Uceng di akun media sosialnya dikutip Sabtu (3/1/2026). 

Uceng tidak takut, dia justru memberikan pesan tegas kepada pelaku teror tersebut agar tidak mengatasnamakan aparat untuk mengintimidasi orang lain.

"Yang kedua, kepada para penipu, jangan jualan polisi untuk ngancam dan nakutin orang2 tertentu. Gak akan ngefek," tulisnya.

Sebelumnya, Uceng menjelaskan bahwa penelepon mengaku sebagai anggota Polresta Yogyakarta. Pelaku meminta dia segera menghadap dengan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) disertai ancaman penangkapan.

"Baru aja masuk telepon ini. Ngaku dari Polresta Jogjakarta, meminta segera menghadap dan membawa ktp, jika tidak akan segera melakukan penangkapan," kata Uceng dalam unggahannya.

Dia mengungkapkan bahwa cara bicara penelepon terdengar intimidatif. Menurutnya, pelaku sengaja mengubah intonasi suara agar terkesan memiliki otoritas sebagai aparat penegak hukum. Dia juga mengaku aksi teror serupa sudah dialaminya lebih dari sekali.

"Suaranya diberat-beratkan supaya kelihatan punya otoritas. Dalam beberapa hari ini sy dah dihubungi tindakan sejenis dah dua kali. Saya hanya ketawa dan matiin hape lalu lanjut ngetik," tulisnya lagi.

Topik Menarik