Pulihkan Mental, Penyuluh Agama Gelar Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir Bireun
BIREUEN, iNews.id - Suara tawa anak-anak yang sempat hilang diterjang bencana, perlahan kembali terdengar di sudut Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Di sela-sela dinding rumah yang masih menyisakan jejak lumpur, puluhan anak duduk melingkar.
Tangan kecil mereka menggenggam krayon warna-warni, menumpahkan imajinasi di atas kertas putih sebagai pengganti rasa takut yang sempat menghantui.
Kehadiran lima Penyuluh Agama Islam dan lima guru madrasah pada Kamis (8/1/2026) menjadi oase bagi batin para penyintas. Mereka hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, melainkan membawa misi yang jauh lebih dalam memulihkan jiwa yang luka.
Sebanyak 80 anak-anak dan 16 ibu rumah tangga mengikuti program trauma healing ini. Melalui metode Psychological First Aid (PFA), para penyuluh agama memberikan dukungan psikologis awal agar anak-anak tidak merasa sendirian menghadapi trauma.
“Permainan sederhana, bernyanyi, dan menggambar adalah jalan kami untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka. Kami ingin mereka merasa aman kembali,” ujar Mulyadi, salah satu Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen.
Tak hanya anak-anak, para ibu pun mendapatkan ruang khusus untuk menumpahkan kegelisahan. Melalui konsep Keluarga Sakinah Maslahah, para relawan memberikan edukasi mengenai manajemen stres dan strategi bertahan hidup (coping strategy) di tengah krisis.
Materi disampaikan dengan cara yang ringan, mulai dari latihan relaksasi hingga mindfulness (kesadaran penuh). "Kami ingin para ibu pulang dengan keyakinan bahwa keluarga mereka mampu bangkit. Ketahanan keluarga adalah kunci pemulihan pascabencana," kata Mulyadi.
Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto menegaskan, kegiatan ini adalah bagian dari langkah strategis kementerian dalam menjaga kesehatan mental masyarakat terdampak bencana.
“Pendampingan psikososial sangat krusial. Pemulihan fisik harus berjalan beriringan dengan pemulihan mental. Relawan kami dibekali kemampuan rapid assessment untuk memastikan dukungan yang diberikan tepat sasaran,” kata Zudi.
Ketika matahari mulai terbenam di Kuta Blang, kegiatan ditutup dengan pelukan hangat dan senyum yang mulai merekah. Meski rumah mereka mungkin belum sepenuhnya pulih, setidaknya sore itu, luka di batin mereka perlahan menemukan jalan untuk sembuh.










