Megawati Cerita soal Sayyidah Khadijah dan Aisyah saat Bicara Pemberdayaan Perempuan
JAKARTA - Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, menyebut dalam Islam, pemberdayaan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep amanah dan keadilan.
Demikian diutarakan Megawati saat menyampaikan pidato akademiknya di Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU), Riyadh, Arab Saudi, saat menerima gelar doktor kehormatan.
‘’Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Amanah menuntut pertanggungjawaban. Amanah menuntut keadilan," kata Megawati dikutip, Selasa (10/2/2026).
Ketua Umum DPP PDIP itu menyampaikan Alquran telah mengajarkan tentang prinsip kesetaraan manusia. Megawati mengutip surat An-Nisa ayat 1.
"Allah Ta’ala menyatakan bahwa seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa yang sama. Prinsip ini menjadi dasar teologis bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam martabat kemanusiaan," ujar dia.
Dia juga mengutip surat Al-Hujurat ayat 13 yang menurutnya kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, suku, atau kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaan dan tanggung jawab moral.
Mendagri Minta Tambah BKO 5.000 Personel TNI-Polri untuk Bersihkan Lumpur Pascabencana Sumatera
"Prinsip-prinsip ini tidak berhenti pada teks. Sejarah Islam menunjukkan praktek yang nyata," tutur Megawati.
Megawati lalu menceritakan peran perempuan dalam masa awal Islam. Perempuan berkiprah di berbagai lini mulai dari pengusaha hingga periwayat hadis.
"Kita mengenal Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha yang mandiri, sekaligus mitra intelektual dan moral Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar sebagai periwayat hadis dan rujukan keilmuan yang menjadi sumber pengetahuan umat hingga hari ini," ungkapnya
"Kita mengenal Ummu Salamah yang pemikirannya didengar dalam pengambilan keputusan penting umat Islam. Kita juga mengenal Nusaibah binti Ka‘ab yang menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menjaga komunitas Muslim pada masa awal Islam," sambung Megawati.
Bagi Megawati, Islam tidak pernah memposisikan perempuan sebagi pihak yang harus disingkirkan. Justru, kata dia, perempuan mendapatkan terhormat dalam Islam.
"Perempuan hadir sebagai penjaga nilai, penopang moral dan keadilan, dan penggerak peradaban," tegasnya.
Dalam orasi ilmiah itu, Megawati juga menceritakan pengalaman panjangnya di politik mulai dari anggota DPR, Ketua Umum PDIP, wakil presiden hingga presiden. Megawati menekankan soal dirinya merupakan presiden perempuan pertama di Indonesia.
"Hingga saat ini, saya juga memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebuah lembaga kenegaraan yang bertugas menguatkan dasar negara dan ideologi bangsa kami, yakni Pancasila,''ujarnya.
Sekaligus memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tempat para ilmuwan terbaik kami melakukan riset dan inovasi nasional. Dua lembaga kenegaraan tersebut menjadi bagian dari pemerintahan Republik Indonesia,"lanjutnya.
Dari pengalaman tersebut, Megawati mengatakan ada satu pelajaran jelas yang diambilnya yaitu pemerintahan yang adil dan efektif tidak dapat dibangun dengan mengecualikan perempuan.
"Justru sebaliknya, kualitas pemerintahan sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan," pungkasnya.










