Soroti Wacana War Ticket Haji, Atalia: Bagaimana dengan Kakek dan Nenek Kita yang Gaptek?

Soroti Wacana War Ticket Haji, Atalia: Bagaimana dengan Kakek dan Nenek Kita yang Gaptek?

Nasional | sindonews | Sabtu, 11 April 2026 - 07:14
share

Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menilai wacana war ticket dalam skema pendaftaran haji sangat prematur. Menurutnya, wacana itu mengabaikan aspek keadilan sosial dan berpotensi menghancurkan tata kelola keuangan haji yang sudah berjalan baik selama ini.

"Kita semua sepakat bahwa menunggu hampir tiga dekade adalah waktu yang terlalu lama. Namun, solusi tidak boleh lahir dari ketergesaan yang justru menimbulkan masalah baru yang lebih besar," tegas Atalia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (11/4/2026).

Atalia menilai mengembalikan skema pendaftaran haju dengan metode "war ticket" merupakan kemunduran bagi reformasi tata kelola haji. "Mengembalikan sistem haji ke mekanisme war ticket atau 'balapan cepat' seperti sebelum tahun 2017 adalah sebuah kemunduran besar bagi reformasi tata kelola haji di Indonesia," ujar Atalia.

Baca Juga: Cak Imin Kritisi War Ticket Haji: Yang Sudah Ngantre Tinggal 2 Tahun Gimana?

Politikus Partai Golkar itu menilai, wacana ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah yang menganut prinsip "first come first serve" berdasarkan nomor porsi (NOPORS) pendaftaran .Menurut Atalia, ibadah haji adalah panggilan jiwa, bukan ajang balapan klik. Jika sistem war ticket diterapkan, ia meyakini, pemenang memiliki gawai super cepat, koneksi internet terbaik, dan kemampuan finansial instan.

"Bagaimana dengan ibu-ibu di kampung yang sudah menabung 20 tahun? Bagaimana dengan kakek-nenek kita yang gaptek? Mereka akan tersisihkan," tegas Atalia.

Atalia menjelaskan, sistem antrean saat ini memungkinkan dana setoran awal jemaah (Rp 25 juta) dikelola secara produktif oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Nilai manfaat dari pengelolaan inilah yang selama ini digunakan untuk mensubsidi biaya haji, sehingga BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) bisa ditekan.

"Jika sistem antrean dihapus dan kembali ke sistem setoran penuh langsung (lumpsum), dana haji yang mencapai ratusan triliun akan kering. Siapa yang akan menyubsidi jemaah? Apakah biaya haji akan naik drastis?" tanya Atalia.

Atalia menilai, sikap pemerintah juga kontradiktif dan berpotensi membingungkan publik. "Saya khawatir ini akan dimanfaatkan oleh calo untuk menawarkan 'jalur cepat' dengan iming-iming iming sistem baru," tuturnya.

Untuk mengatasi permainan sistem dengan skema perang tiket dan dalam rangka mengatasi antrean haji, Atalia menyarankan pemerintah serius menerapkan single database nasional yang sinkron antara Kemenhaj dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Dengan data yang akurat, kita bisa memetakan berapa jemaah yang benar-benar eligible (memenuhi syarat istithaah) setiap tahun.

"Fokuslah pada efisiensi pemberangkatan dan pembangunan infrastruktur di sana, jangan malah mengubah sistem di hulu yang justru berantakan," katanya.

Topik Menarik