Melewati Bayang-Bayang Perang Iran 2026
Penulis: Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
PADA hari ke-104 perang Iran 2026, dunia sedang menyaksikan sebuah paradoks: dentuman senjata belum sepenuhnya lenyap, tetapi bahasa perdamaian mulai terdengar lebih lantang tinimbang suara rudal yang ditembakkan. Washington dan Teheran kini berdiri di persimpangan jalan sejarah—bukan lagi semata sebagai musuh yang saling mengancam, melainkan sebagai dua negara yang sama-sama terlampau lelah menanggung biaya perang, dan juga melihat cahaya di ujung terowongan.
Dalam beberapa pekan terakhir, sinyal de-eskalasi semakin menguat. Pasar minyak dunia menyahuti positif, harga energi global turun, dan sejumlah pernyataan pejabat Amerika Serikat maupun Iran menunjukkan bahwa jalur diplomasi menunjukkan titik terang. Bahkan, terbit laporan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan awal guna menghentikan operasi militer dan membuka ruang negosiasi lebih lanjut, termasuk mengenai masa depan program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi ekonomi.
Namun, sejarah Timur Tengah mengajarkan hal fundamental bahwa kesepakatan awal bukanlah perdamaian akhir. Harapan terbesar hari ini adalah bahwa perang tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju kemenangan total. Setelah lebih dari seratus hari konflik berkecamuk, kedua pihak tampaknya menyadari bahwa perang modern di Timur Tengah tidak pernah menghasilkan pemenang mutlak.
Iran mengalami tekanan ekonomi, gangguan perdagangan, dan kerusakan strategis yang hebat. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menghadapi biaya politik domestik, tekanan harga energi, dan risiko meluasnya konflik kawasan. AS sendiri terjebak dalam rawa perang yang diciptakannya sendiri. Singkatnya, kedua pihak sama-sama kalah dan lelah.
Karenanya, negosiasi diplomatik kini beranjak dari logika “mengalahkan lawan” menuju logika “mengelola risiko”. Ini perubahan yang penting. Jika sebelumnya perundingan damai acap dibayangi tuntutan maksimalis—penghentian total pengayaan uranium di satu sisi dan pengakuan penuh hak nuklir Iran di sisi lain—maka hari ini ruang kompromi tampak sedikit lebih terbuka.
Bahkan, sebelum perang meletus, mediasi Oman telah menunjukkan tersedianya jendela kesempatan mengenai verifikasi internasional dan pembatasan stok uranium Iran sebelum perang menghancurkannya dengan keras.
Kini, harapan terbesar hari ke-104 ini terletak pada lahirnya sebuah kerangka perdamaian yang untuk pertama kalinya sejak perang pecah mampu diterima oleh Washington dan Teheran. Draf kesepakatan itu memuat gencatan senjata 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade pelabuhan Iran, pelonggaran bertahap sanksi ekonomi, serta dimulainya kembali perundingan mengenai program nuklir Iran. Lebih dari itu, kedua pihak sepakat menjadikan penghentian konflik regional sebagai bagian dari proses damai yang lebih luas.
Kesepakatan awal tersebut telah ditandatangani secara digital pada 15 Juni 2026 dan dijadwalkan memperoleh legitimasi diplomatik melalui penandatanganan resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni 2026. Namun, seperti semua perjanjian besar dalam sejarah Timur Tengah, tanda tangan di atas kertas hanyalah permulaan; ujian sesungguhnya adalah apakah para pihak yang bertikai mampu mengubah dokumen diplomatik menjadi kepercayaan politik yang bertahan lama.
Meski demikian, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi beberapa ranjau politik: Pertama, persoalan nuklir belum terselesaikan. Iran menegaskan tidak akan mengorbankan “garis merah”-nya, terutama terkait hak pengayaan uranium. Teheran menolak narasi bahwa kesepakatan final sudah tercapai dan menilai banyak detail krusial masih dinegosiasikan.
Kedua, faktor domestik di Washington dan Teheran. Di Amerika Serikat, setiap konsesi terhadap Iran akan menghadapi perlawanan dari kelompok hawkish di Kongres dan sebagian sekutu regional. Di Iran, kepemimpinan pasca-perang harus membuktikan bahwa diplomasi tidak berarti menyerah pada tekanan AS. Perdamaian yang dianggap “menghinakan” bisa menjadi bumerang politik bagi pemerintah Iran sendiri.
Ketiga, bayang-bayang Israel dan aktor regional lain. Israel memandang program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial. Karena itu, setiap kesepakatan AS–Iran yang dianggap terlalu lunak berpotensi memicu ketegangan baru. Di Timur Tengah, perdamaian bilateral acap tidak memadai; ia harus diterima oleh jaringan kepentingan regional yang jauh lebih rumit.
Keempat, persoalan kepercayaan. Inilah tantangan terbesar. Pada satu sisi, Iran masih mengingat keluarnya AS dari perjanjian nuklir 2015. Di sisi lain, AS masih meragukan komitmen Iran terhadap pembatasan program nuklir jangka panjang. Ketika dua pihak membawa luka sejarah yang panjang, setiap kalimat dalam teks perjanjian bersalin rupa menjadi medan pertempuran tersendiri.
Pungkasannya, kesepakatan damai yang sedang dibangun kemungkinan besar bukanlah perdamaian romantik yang seketika menghapus permusuhan. harapan terbesar bukanlah bahwa Iran dan AS tiba-tiba menjadi sahabat sejoli.
Jika pada hari ke-104 ini kedua pihak mampu mengubah gencatan senjata menjadi proses politik yang berkelanjutan, maka sejarah mungkin akan mencatat bahwa perdamaian terbit bukan ketika senjata habis dan kelelahan, melainkan ketika para pemimpin kedua negara menyadari bahwa kemenangan sejati adalah kemampuan mencegah terjadinya perang berikutnya.









