Dari Climate Summit PBB, Menteri LH: Presiden Prabowo Lakukan Langkah Nyata Pengendalian Perubahan Iklim
Cobaan atau ujian hidupterkadang datang bertubi-tubi. Namun, kisah Abu Qilabah mengajarkan bahwa seorang Muslim tetap dapat bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, bahkan ketika hampir seluruh kenikmatan dunia seakan telah direnggut darinya.
Kisah sahabat Nabi SAW mengharukan ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat melalui Abdullah bin Muhammad. Peristiwa tersebut bermula ketika Abdullah bin Muhammad berada di daerah perbatasan Arish, Mesir.
Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah kemah kecil yang berdiri di tengah padang pasir. Kondisinya begitu sederhana dan tampak menunjukkan bahwa pemiliknya hidup dalam keterbatasan. Abdullah kemudian mendatangi kemah tersebut. Di dalamnya, ia melihat seorang laki-laki dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Kedua tangan dan kakinya tidak berfungsi dengan normal. Pendengarannya terganggu, matanya tidak dapat melihat, bahkan ia tidak mampu berbicara dengan baik. Namun, di tengah kondisi tersebut, Abdullah justru mendengar lelaki itu memanjatkan doa.
"Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau muliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain."
Baca juga:Ujian Hidup Datang Bertubi-tubi? Begini Cara Islam Menghadapinya
Abdullah merasa heran. Ia kemudian bertanya kepada lelaki tersebut.
"Wahai saudaraku, nikmat Allah yang mana yang engkau syukuri?"Lelaki itu menjawab dengan penuh keyakinan bahwa dirinya tidak akan berhenti bersyukur kepada Allah.
Ia kemudian mengingatkan bahwa meskipun berbagai musibah datang kepadanya, ia masih memiliki satu nikmat yang sangat besar.
"Tidakkah engkau melihat bahwa Dia telah menganugerahkan kepadaku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur?"
Selain itu, ia juga memiliki seorang anak yang selalu membantunya. Anak tersebut biasa menuntunnya pergi ke masjid ketika waktu salat tiba dan menyuapinya ketika ia membutuhkan bantuan.
Namun, sudah tiga hari anak tersebut tidak pulang. Karena itu, lelaki tersebut meminta pertolongan Abdullah untuk mencari anaknya.
Anak Abu Qilabah Meninggal
Abdullah kemudian pergi mencari anak tersebut. Setelah beberapa waktu, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.Di tengah perjalanan, ia mendapati jenazah seorang laki-laki yang tubuhnya dikelilingi binatang buas. Ternyata, orang tersebut adalah anak dari lelaki yang tinggal di kemah tadi.
Abdullah pun kebingungan bagaimana menyampaikan kabar duka tersebut. Ia akhirnya kembali menemui lelaki itu dan tidak langsung mengatakan bahwa anaknya telah meninggal. Abdullah justru mengajaknya berbicara tentang Nabi Ayyub Alaihissalam.
"Wahai saudaraku, apakah engkau mengetahui kisah Nabi Ayyub?"
"Ya, aku mengetahuinya," jawab lelaki tersebut.Abdullah kemudian bertanya bagaimana Nabi Ayyub menghadapi ujian ketika hartanya diambil.
"Ia bersabar," jawabnya.
"Bagaimana ketika Allah mengujinya dengan kefakiran?"
"Ia tetap bersabar."
Abdullah kembali bertanya mengenai ujian yang menimpa anak-anak Nabi Ayyub.
"Bagaimana sikapnya?"
"Ia tetap bersabar."
Tidak berhenti di situ, Abdullah bertanya mengenai penyakit berat yang menimpa tubuh Nabi Ayyub.
Jawabannya tetap sama."Ia bersabar."
Denny Indrayana Bikin Sayembara tentang Ijazah Gibran, Ade Armando Endus Tujuan Akhirnya 2029
Setelah serangkaian pertanyaan itu, lelaki tersebut akhirnya bertanya, "Sekarang katakan kepadaku, di mana anakku?"
Abdullah kemudian menyampaikan kenyataan yang sebenarnya.
"Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan diterkam dan dimakan binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan memberikan kesabaran kepadamu."
Kehilangan Anak, Abu Qilabah Justru Mengucap Alhamdulillah
Kabar tersebut tentu sangat berat. Namun, jawaban lelaki itu justru membuat Abdullah tertegun.Ia mengucapkan:
"Alhamdulillah."
Lelaki tersebut kemudian berkata bahwa ia bersyukur karena Allah tidak meninggalkan keturunan baginya yang bermaksiat kepada Allah sehingga kelak mendapat azab di neraka.
Tidak lama setelah mengucapkan kalimat tersebut, lelaki itu menarik napas panjang dan kemudian meninggal dunia. Abdullah pun membaringkan jenazahnya. Karena sendirian, ia menutupi tubuh lelaki tersebut dengan jubah.
Tak lama kemudian, datang empat orang berkuda. Mereka bertanya mengenai apa yang terjadi. Abdullah menceritakan seluruh peristiwa yang dialaminya dan meminta bantuan mereka untuk mengurus jenazah tersebut.Keempat orang itu kemudian meminta agar wajah jenazah dibuka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat wajah lelaki tersebut. Mereka segera mencium dan menangisinya.
"Subhanallah, wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah. Mata yang selalu menunduk dari apa yang diharamkan Allah. Tubuhnya selalu bersujud ketika orang-orang sedang tidur," demikian ungkapan mereka.
Abdullah kemudian bertanya apakah mereka mengenal lelaki tersebut. Mereka menjawab bahwa jenazah itu adalah Abu Qilabah, salah seorang sahabat Nabi.
Pernah Ditawari Menjadi Hakim
Dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Abu Qilabah pernah diminta untuk menduduki jabatan sebagai hakim. Jabatan tersebut merupakan kedudukan terhormat. Namun, Abu Qilabah memilih menolaknya.Ia kemudian pergi ke wilayah Mesir hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan penuh keterbatasan seperti yang disaksikan Abdullah bin Muhammad.
Setelah mengetahui identitasnya, Abdullah bersama empat orang tersebut kemudian mengurus jenazah Abu Qilabah. Mereka memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkannya.
Hikmah dari Kisah Abu Qilabah
Kisah Abu Qilabah memberikan pelajaran tentang makna sabar dan syukur ketika menghadapi ujian. Keterbatasan fisik, hidup dalam kemiskinan, kehilangan anak, hingga menghadapi kematian tidak membuatnya berhenti mengingat nikmat Allah.Justru ketika kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, ia masih mampu mengucapkan Alhamdulillah. Sikap tersebut bukan berarti Islam mengajarkan manusia untuk mengabaikan kesedihan. Kehilangan tetap merupakan sesuatu yang berat. Namun, seorang Muslim diajarkan untuk tetap meyakini bahwa setiap ketetapan Allah memiliki hikmah, sementara kesabaran dan syukur menjadi jalan untuk menjaga hati agar tetap dekat kepada-Nya.
Dari Abu Qilabah, kita belajar bahwa nikmat Allah tidak selalu berbentuk harta, kesehatan, atau kemudahan hidup. Kemampuan berzikir, mengenal Allah, beribadah, dan tetap bersyukur di tengah ujian juga merupakan nikmat yang sangat besar. Wallahu a'lam.
Baca juga:4 Ayat Al-Qur’an Ini Bisa Mengubah Kesulitan Menjadi Kebahagiaan, Amalkan Secara Istiqamah









