OJK Sebut Pergeseran Struktur Investor Bursa Domestik, Lebih Besar dari Negara Tetangga

OJK Sebut Pergeseran Struktur Investor Bursa Domestik, Lebih Besar dari Negara Tetangga

Ekonomi | okezone | Jum'at, 2 Januari 2026 - 13:06
share

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa hal menarik terkait pergeseran struktur investor di bursa domestik. Porsi investor ritel tercatat meningkat pesat dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen pada akhir 2025.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan dominasi investor individu yang mencapai separuh dari pasar ini membawa tantangan tersendiri bagi otoritas dalam hal pengawasan dan integritas pasar.

Mahendra menekankan bahwa perlindungan terhadap masyarakat umum harus menjadi prioritas utama untuk mencegah praktik-praktik kecurangan.

"Dan proporsi itu sangat besar dibanding negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institusional dalam maupun luar negeri. Artinya semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek perlindungan, termasuk melindungi investor retail dari praktik kemungkinan goreng menggoreng saham, transaksi tidak wajar serta bentuk kemungkinan manipulasi lainnya," jelas Mahendra di Main Hall BEI, Jumat (2/1/2026).

Adapun Mahendra memberikan evaluasi mendalam terhadap capaian pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025.

Dalam seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2026, Mahendra mengapresiasi pertumbuhan indeks yang selaras dengan resiliensi ekonomi nasional.

 

Mahendra mencatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup tahun 2025 dengan performa yang mengesankan.

"Selaras dengan kinerja perekonomian nasional, berbagai indikator kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang baik, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Direktur Utama BEI pada penutupan tanggal 30 Desember yang lalu antara lain penutupan IHSG berada di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen sepanjang tahun 2025," ujar Mahendra.

Meskipun mencatatkan kenaikan luar biasa, OJK melihat masih banyak ruang perbaikan yang perlu dikejar. Salah satu sorotannya adalah indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen, tertinggal jauh dari penguatan IHSG secara keseluruhan.

Dari sisi kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia mengalami lonjakan dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025. Namun, angka ini dinilai masih perlu ditingkatkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan kawasan.

"Sungguh kenaikan yang luar biasa. Sekalipun demikian angka itu masih di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 141 persen, Thailand 101 persen, Malaysia 97 persen dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya potensi pengembangan masih lebih besar lagi," kata Mahendra.

Dengan demikian, OJK berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan agar pertumbuhan jumlah investor ritel yang masif ini diimbangi dengan ekosistem pasar modal yang sehat, transparan, dan jauh dari manipulasi.

Topik Menarik