PSSI Tindak Tegas Kebrutalan Liga 4: Dua Pemain Dihukum Larangan Beraktivitas Sepak Bola Seumur Hidup!
DALAM kurun waktu dua hari beruntun, PSSI melalui Komite Disiplin (Komdis) di tingkat wilayah menjatuhkan sanksi paling berat, yakni larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup, kepada dua pemain Liga 4. Kedua pemain itu diberikan sanksi yang begitu berat karena terbukti melakukan aksi brutal di lapangan hijau.
Langkah ini diambil menyusul viralnya video kekerasan yang memicu kemarahan publik di media sosial. PSSI menegaskan tidak ada ruang bagi tindakan premanisme yang mengancam nyawa atlet, demi terciptanya iklim sepak bola yang sehat dan kondusif.
1. Kebrutalan di Jawa Timur dan Yogyakarta
Kasus pertama menimpa Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan. Dalam laga babak 32 besar Liga 4 Piala Gubernur Jatim melawan Perseta 1970 Tulungagung pada Senin 5 Januari 2026, Hilmi tertangkap kamera melepaskan tendangan keras ke arah dada pemain lawan, Firman Nugraha Ardhiansyah.
Atas aksi "kungfu" tersebut, Komdis PSSI Asprov Jatim resmi melarang Hilmi beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup pada 6 Januari 2026.
Hanya berselang sehari, insiden serupa terjadi di Liga 4 DIY. Pemain KAFI FC, Dwi Pilihanto, melakukan tindakan membahayakan dengan menendang wajah pemain UAD FC, Amirul Muttaqin, saat perebutan bola pada Selasa 6 Januari 2026.
Panitia Disiplin (Pandis) PSSI Asprov DIY bergerak cepat mengeluarkan keputusan serupa pada Rabu 7 Januari 2026 dengan menjatuhkan sanksi seumur hidup kepada Dwi.
2. Nasib Korban dan Pemecatan dari Klub
Dampak dari aksi brutal tersebut tidak hanya berhenti pada sanksi federasi. Kedua pemain pelaku kekerasan tersebut langsung dipecat oleh klub masing-masing, Putra Jaya Pasuruan dan KAFI Jogja, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.
Ketua Komdis PSSI Pusat, Umar Husein, mendukung penuh keberanian Pandis dan Komdis daerah dalam mengambil keputusan ekstrem ini untuk melindungi nyawa atlet sebagaimana diatur dalam UU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN).
Sementara itu, kondisi korban tendangan di Yogyakarta, Amirul Muttaqin, dilaporkan telah menjalani pemeriksaan medis. Meski hasil rontgen menunjukkan tidak ada patah tulang rahang, Amirul masih mengalami nyeri hebat saat berbicara dan mengunyah makanan.
Pihak klub UAD FC menyatakan akan terus melakukan observasi ketat selama sepekan ke depan guna memastikan tidak ada cedera saraf atau dampak jangka panjang lainnya bagi sang pemain.









