IHSG Lesu ke 7.922, Friderica: Investor Sedang Rebalancing Portofolio
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Indeks saham merosot 4,88 atau 406 poin ke level 7.922.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan IHSG yang terjadi hari ini lebih disebabkan aksi rebalancing portofolio investor.
Meski demikian, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan, di balik penurunan indeks terdapat sejumlah indikator positif yang patut dicermati.
"Salah satu hal baik yang perlu kita lihat, setelah empat hari berturut-turut investor asing mencatatkan net sell, hari ini asing justru membukukan net buy sebesar Rp654,9 miliar. Ini tentu menjadi sinyal positif," ujar Friderica dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, tekanan yang terjadi di pasar saham domestik juga sejalan dengan kondisi global dan regional. Sebab menurutnya, sejumlah indeks utama di kawasan Asia tercatat melemah cukup dalam.
4 Fakta Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026
"Secara regional, indeks-indeks juga berada di zona merah. Kospi Korea Selatan turun lebih dari 5 persen, kemudian Hong Kong, India, Singapura, dan Tiongkok juga mengalami pelemahan. Bahkan harga emas pun melemah hari ini. Jadi ini memang sentimen global yang harus dilihat secara lebih luas," jelasnya.
Lebih lanjut, Friderica menegaskan bahwa pelemahan IHSG kali ini tidak bersifat menyeluruh. Saham-saham yang mengalami penurunan signifikan umumnya merupakan saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan harga cukup tinggi.
"Yang turun hari ini mayoritas adalah saham-saham yang harganya sudah naik terlalu tinggi. Kalau kita lihat investor sedang melakukan rebalancing portofolio," katanya.
Sebaliknya, saham-saham dengan fundamental yang baik justru masih menunjukkan ketahanan, bahkan mencatatkan kenaikan meskipun terbatas. "Jadi ini satu hal yang positif bahwa investor melihat untuk saham-saham yang fundamentalnya bagus," tambahnya.
Pada hari ini, mayoritas emiten mengalami koreksi. Total ada 720 emiten saham mengalami tekanan alias berada di zona merah, 36 emiten stagnan, dan hanya ada 58 saham yang mencatatkan penguatan.










