Gagal Taklukkan Ganda Korsel di Final All England 2026, Anak Didik Herry IP Curhat soal Kutukan Super 1000

Gagal Taklukkan Ganda Korsel di Final All England 2026, Anak Didik Herry IP Curhat soal Kutukan Super 1000

Olahraga | okezone | Selasa, 10 Maret 2026 - 01:01
share

BIRMINGHAM – Harapan ganda putra andalan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, untuk naik podium tertinggi di All England 2026 harus kandas di tangan wakil Korea Selatan. Pasangan anak didik pelatih asal Indonesia, Herry Iman Pierngadi (Herry IP) tersebut, mengaku sangat terpukul karena kegagalan ini sekaligus memperpanjang penantian panjang mereka untuk merengkuh gelar juara di turnamen level BWF Super 1000.

Aaron/Soh gagal juara usai kalah dari Kim Won Ho/Seo Seung Jae dari Korea Selatan di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Minggu 8 Maret 2026. Ganda putra nomor satu Malaysia itu memberi perlawanan sengit, namun harus kalah lewat pertarungan tiga gim dengan skor 21-18, 12-21, dan 19-21.

“Kami tetap memberikan yang terbaik meskipun kalah. Kami berhasil melangkah ke final dan kalah dari pasangan terbaik. Masih banyak hal yang perlu kami pelajari,” kata Aaron, dilansir dari Harian Metro, Selasa (10/3/2026).

1. Penantian Gelar Bergengsi yang Berlanjut

Aaron cukup kecewa dengan hasil tersebut. Sebab, dirinya dan Soh belum pernah mencicipi rasanya juara dalam turnamen level Super 1000.

Herry IP sukses bantu Aaron Chia/Soh Wooi Yik juara BAC 2025. (Foto: Instagram/aaronchiatengfong)

“Tentu saja kekalahan itu menyakitkan. Kami masih belum memenangkan gelar Super 1000 dan ini mungkin final kami yang kedelapan atau kesembilan,” ungkap Aaron.

“Mungkin waktunya belum tiba, tetapi kami akan terus bermain karena masih ada banyak waktu,” tambahnya.

Aaron/Soh sebenarnya berada di jalur yang baik setelah sempat unggul di gim ketiga. Namun setelah bertukar tempat, mereka kesulitan meredam serangan yang dilancarkan Kim/Seo.

 

2. Kondisi Lapangan Jadi Faktor Pembeda

Soh cukup menyayangkan situasi tersebut. Di sisi lain, menurutnya pasangan Korea Selatan tersebut lebih diuntungkan oleh kondisi angin dalam momen tersebut.

“Pada gim ketiga kami memiliki keunggulan poin yang cukup baik, tetapi setelah bertukar sisi lapangan mereka mendapatkan keuntungan lebih di sisi tersebut. Kami menyadari hal itu, tetapi pada saat yang sama kami tidak bisa mengendalikan permainan di momen-momen krusial,” lanjut Soh.

aaron chia/soh wooi yik foto pbsi

“Saya rasa faktor angin lebih menguntungkan mereka di sisi itu dan memudahkan mereka mendapatkan poin,” pungkasnya.

Tak pelak jika anak didik Herry IP menyebut kekalahan tersebut begitu menyakitkan. Karena, kekalahan tersebut membuat Aaron/Soh kembali harus puas sebagai runner-up turnamen bulu tangkis tertua di dunia tersebut untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya meraih pencapaian serupa pada 2019 dan 2024.

Topik Menarik