Viral! Tak Mau Cerai, Istri Sewakan Suami ke Selingkuhan Rp15 Juta per Bulan
JAKARTA – Sebuah perkara rumah tangga yang aneh di Thailand menjadi viral setelah seorang istri diduga menawarkan untuk “menyewakan” suaminya yang selingkuh kepada selingkuhannya seharga 30.000 baht (sekitar Rp15,7 juta) per bulan sebagai pengganti perceraian.
Kisah tak biasa ini muncul di acara TV Hone-Krasae, di mana sang istri yang diidentifikasi sebagai Khun Kwang mengungkapkan bahwa suaminya, seorang petugas polisi, telah berselingkuh dalam jangka panjang dan bahkan pindah ke apartemen wanita tersebut.
Menurut laporan situs berita lokal Khaosod, Kwang mengatakan bahwa ia dan suaminya telah bersama sejak kuliah dan menikah ketika berusia 21 tahun. Kini berusia 31 tahun, ia memiliki seorang anak berusia delapan tahun dengan sang suami yang berusia 35 tahun. Ia menuturkan pernikahan mereka tampak stabil hingga pertengahan 2025, ketika ia menyadari seorang wanita misterius mengikuti suaminya secara daring dan melihat unggahan media sosialnya. Tak lama kemudian, perilaku suaminya berubah: sering pulang larut malam dan menghindari panggilan telepon.
Situasi memburuk ketika suatu malam ia pulang pukul 01.00 dan menyatakan ingin meninggalkan keluarga, dengan mengatakan bahwa ia telah memberikan segalanya—rumah, mobil, dan utang—kepada istri serta anaknya. Meskipun sempat kembali setelah ditegur, Kwang kemudian mengetahui bahwa perselingkuhan itu berlanjut.
“Saat itu saya bingung dan terkejut, tetapi saya tidak bertanya atau membicarakan apa pun. Kami tidur terpisah. Karena kecurigaan saya, saya memutuskan menyewa detektif swasta untuk memeriksa perilaku suami, dengan membayar 10.000 baht per hari. Saya setuju meski detektif mengatakan mungkin tidak selesai dalam satu hari. Namun, saya memberikan informasi penting, dan hanya dalam satu hari saya menerima petunjuk ketika detektif melaporkan bahwa suami saya pergi ke sebuah kediaman di daerah Ramkhamhaeng,” kata Khun, sebagaimana dilansir NDTV.
Khun bergegas ke rumah itu, hanya untuk mendapati suaminya sudah pergi. Ia kemudian memberi ultimatum: kembali ke rumah untuk berbicara atau ia akan datang langsung ke lokasi. Akhirnya sang suami setuju kembali, beralasan bahwa wanita selingkuhannya menolak mengakhiri hubungan dan bahkan mengancam melukai diri jika diputuskan.
Setelah menghadapi situasi tersebut, Khun mengatakan bahwa wanita itu mengakui mengetahui suaminya sudah menikah dan memiliki anak. Namun, ketika Khun menyinggung soal utang keluarga dan bertanya apakah ia bersedia bertanggung jawab jika pasangan berpisah, wanita itu menolak dan menyuruh suami-istri menyelesaikan masalah sendiri.
Suami kemudian kembali ke rumah, dan kehidupan tampak normal sementara waktu. Namun, suatu malam ia terbangun gelisah dan mengaku masih merindukan wanita lain itu.
“Suatu malam, suami saya tiba-tiba terbangun, mengatakan ia merindukannya dan tidak bisa putus. Ia gelisah dan resah. Jadi saya bangun dan berbicara dengannya, menyuruhnya menelepon wanita itu. Saya mendengarkan percakapan mereka selama satu jam. Ia bertanya apakah wanita itu masih menunggunya, dan wanita itu mengatakan sudah menghentikan semuanya. Saat itulah saya sadar ia memberi harapan palsu; mereka belum benar-benar putus,” tambah Khun.
Sebagai tanggapan, Khun mengusulkan kesepakatan tak biasa: selingkuhannya boleh tinggal bersama suami jika membayar 30.000 baht per bulan, menganggapnya sebagai “sewa” suami, tetapi ia menolak bercerai. Selingkuhannya dilaporkan setuju, mengatakan uang bukan masalah, namun sang suami menolak ide tersebut.
Akhirnya, sang istri mengajukan gugatan terhadap selingkuhannya. Namun, pakar hukum Pat Anusorn Asurapong menegaskan bahwa “perjanjian sewa-menyewa suami” semacam itu tidak memiliki dasar hukum di Thailand karena melanggar ketertiban umum dan hukum monogami negara tersebut.










