Strategi Industri SawitHadapi El Nino Godzilla

Strategi Industri SawitHadapi El Nino Godzilla

Ekonomi | okezone | Selasa, 31 Maret 2026 - 21:50
share

JAKARTA - Kemarau ekstrem yang belakangan populer dengan sebutan El Nino Godzilla memicu kewaspadaan berbagai pihak, termasuk pelaku industri perkebunan. 

Meski istilah tersebut dinilai tidak ilmiah, ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian serius, terutama bagi sektor kelapa sawit yang sangat bergantung pada keseimbangan curah hujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut klasifikasi El Nino secara resmi hanya terbagi menjadi
lemah, moderat dan kuat. 

“Saat ini prediksi kami menunjukkan peluang 50-60 persen terjadinya El Nino lemah hingga moderat setelah semester kedua,” ujarnya dikutip, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Kendati demikian, bagi industri sawit, potensi anomali cuaca sekecil apa pun tetap memerlukan langkah antisipatif. 

Hal itu pula yang mendorong PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini.

 

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan, perusahaan memilih mengambil pendekatan konservatif dengan menyiapkan mitigasi sejak dini.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Kesiapsiagaan tetap kami jalankan seolah menghadapi skenario terburuk,” kata Jatmiko.

Salah satu fokus utama adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menjadi dampak paling merugikan saat kemarau panjang melanda wilayah perkebunan, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Menurut Jatmiko, pendekatan penanganan kini bergeser dari responsif menjadi preventif. Perusahaan mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara) untuk memantau potensi kebakaran secara real time.

“Sistem ini membantu kami mendeteksi titik panas lebih awal, sehingga penanganan
bisa dilakukan sebelum api meluas,” ujarnya.

Namun, dia menekankan, teknologi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Setiap peringatan dari sistem akan langsung ditindaklanjuti oleh tim yang siaga di wilayah operasional.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat infrastruktur pendukung, seperti pembangunan embung dan sekat kanal di area rawan kekeringan. 

Upaya ini dilengkapi dengan kolaborasi bersama aparat TNI dan Polri dalam kegiatan patroli serta aksi tanggap darurat karhutla.

Di sisi lain, ancaman kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebakaran, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas tanaman. Jatmiko menjelaskan, kekeringan berkepanjangan dapat memicu berbagai risiko, mulai dari gangguan pertumbuhan tanaman hingga penurunan hasil produksi.

“Kemarau panjang membawa efek domino, seperti potensi ledakan hama, kekeringan
tanah, hingga penurunan rendemen. Ini harus diantisipasi secara menyeluruh,” katanya.

Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM), yang dinilai lebih rentan terhadap stres air karena sistem perakarannya belum optimal. 

Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi keberhasilan investasi jangka panjang perusahaan.

Selain itu, perubahan kondisi lingkungan akibat kekeringan juga berpotensi meningkatkan populasi hama, seperti hewan pengerat dan serangga, yang mencari sumber makanan baru di area perkebunan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan menerapkan strategi agronomi adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah dan tata kelola air yang lebih efisien.

“Fokus kami adalah menjaga kondisi tanaman tetap optimal, terutama tanaman muda serta memastikan siklus produksi tidak terganggu di tengah tekanan iklim,” ujar Jatmiko.

Dengan berbagai langkah tersebut, PTPN IV PalmCo berharap dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial yang kerap menyertai musim kemarau panjang.

Topik Menarik