Angkutan Umum Jadi Kunci Hemat BBM, RI Perlu Contoh Jepang dan Korea
JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai peluncuran paket kebijakan strategis sebagai langkah mitigasi terhadap risiko dan dinamika global yang tengah berkembang menjadi momentum pemerintah dalam membenahi sektor transportasi publik. Hal ini juga merupakan bagian dari strategi menekan konsumsi BBM.
Menurut Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B. Kady, perbaikan sistem transportasi umum oleh Kementerian Perhubungan akan menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi secara nasional.
"Salah satu yang menjadi atensi adalah minimnya pembenahan transportasi publik di sejumlah daerah, khususnya di wilayah perkotaan," ujarnya, Jumat (4/3/2026).
Menurut Hamka, transportasi publik merupakan kunci utama dalam menekan konsumsi BBM.
"Negara-negara yang membatasi penggunaan BBM dengan berbagai kebijakan adalah negara yang transportasi umumnya buruk," katanya.
Sebaliknya, negara dengan transportasi umum yang baik cenderung menerapkan kebijakan tarif BBM yang menyesuaikan atau mengatur cadangan BBM.
"Oleh karena itu, saya mendorong pemerintah pusat, dalam hal ini Kemenhub, untuk membenahi transportasi umum yang bertujuan meningkatkan minat penggunaan angkutan umum serta memberikan kemudahan mobilitas masyarakat di perkotaan. Hal ini menjadi salah satu solusi untuk menekan konsumsi BBM," ujar Hamka, yang juga Anggota Badan Anggaran DPR.
Jepang, misalnya, fokus membentuk budaya masyarakat yang gemar menggunakan transportasi publik, yang berkontribusi dalam menekan konsumsi BBM.
Jepang juga getol menggenjot efisiensi teknologi. Jepang dikenal sebagai pelopor kendaraan hemat energi, termasuk mobil hybrid. Standar efisiensi bahan bakar yang ketat membuat produsen otomotif terus berinovasi.
Hal serupa dilakukan pemerintah Korea Selatan yang mengembangkan transportasi publik modern dan terintegrasi. Sistem kereta bawah tanah (subway), bus cepat, dan kereta antarkota menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat, khususnya di kota besar seperti Seoul.
Dengan layanan yang nyaman, tepat waktu, dan terjangkau, masyarakat lebih memilih transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi, sehingga konsumsi BBM dapat ditekan.









