Gerindra: Negara Tak Butuh Pejabat Medioker dan Laporan “Asal Bapak Senang”
JAKARTA - Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti meminta agar tidak ada lagi jajaran pembantu presiden yang berkarakter medioker dan menyampaikan laporan “asal bapak senang”. Ia menegaskan, bahwa negara tidak membutuhkan laporan yang “indah” di atas kertas.
Azis menilai stabilitas ekonomi tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan kejujuran dalam eksekusi di lapangan. Menurutnya, masih ada pejabat yang kurang berani bersikap jujur dalam menjalankan tugas.
"Jangan ada lagi pembantu presiden dan jajarannya yang berkarakter medioker serta berperilaku ‘asal bapak senang’. Negara ini tidak membutuhkan laporan yang indah di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan. Tidak membutuhkan rapat yang penuh angka keberhasilan, tetapi miskin kejujuran atas kesulitan," ujar Azis kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).
Azis juga mengapresiasi taklimat Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kerja kabinet di Istana Negara pada 8 April 2026 yang menekankan disiplin anggaran dan keberpihakan pada ekonomi rakyat. Menurutnya, arah kebijakan tersebut sudah tepat, namun tantangan terbesar terletak pada karakter pelaksanaan di level teknis.
Untuk itu, ia meminta para menteri dan kepala lembaga agar lebih berani menyampaikan hambatan nyata, bukan sekadar menyajikan angka keberhasilan.
“Biasakan menyampaikan kesulitan yang memerlukan terobosan dan koordinasi dalam eksekusi kebijakan, bukan hanya angka keberhasilan yang menenangkan. Karena hanya dari kejujuran itulah kebijakan bisa diperbaiki,” tegasnya.
Selain itu, Azis juga menyoroti maraknya narasi menyesatkan dan hoaks yang menyebut ekonomi nasional sedang runtuh. Menurutnya, kritik memang diperlukan dalam demokrasi, namun kritik tanpa dasar data justru dapat menggerus kepercayaan publik yang menjadi fondasi investasi.
"Kita melihat klaim bahwa ekonomi runtuh, bahwa negara kehilangan kendali, narasi yang terdengar kuat, tetapi rapuh ketika diuji. Hoaks memperkeruhnya, emosi mempercepatnya,” tambahnya.
KIP Kabulkan 7 Poin Gugatan Bonjowi, Nyatakan Sejumlah Informasi Terkait Studi Jokowi Terbuka
Azis menilai tidak ada stabilitas yang kokoh tanpa kepercayaan. Stabilitas yang dimiliki Indonesia saat ini, menurutnya, baru sebatas modal waktu. Transformasi nyata hanya dapat terjadi jika pemerintah mengedepankan kualitas dan kejujuran dalam setiap langkah eksekusi.
"Jika stabilitas tidak diikuti oleh kejujuran dalam eksekusi, maka ia hanya akan menjadi ketenangan yang menunda masalah," ujarnya.
"Jika disiplin dijaga, keberanian untuk jujur dihidupkan, dan kualitas pelaksanaan diperbaiki, maka arah yang sudah benar ini tidak hanya akan menjaga kita tetap berdiri, tetapi juga membawa kita benar-benar melangkah,” pungkasnya.










