Jeda Minum di Piala Dunia 2026 Tuai Kontroversi, Jurgen Klopp Justru Punya Sudut Pandang Unik
MANTAN pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, melontarkan pandangan unik dan berbeda mengenai regulasi jeda hidrasi (hydration breaks) yang menuai kontroversi di Piala Dunia 2026. Di saat mayoritas pelaku sepak bola melayangkan kritik keras karena jeda tersebut dianggap merusak ritme permainan, juru taktik asal Jerman ini justru menilai aturan tersebut memiliki fungsi praktis yang menghibur, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang memaksa FIFA menerapkan jadwal istirahat di pertengahan masing-masing babak demi melindungi pemain dari sengatan suhu panas musim panas. Menanggapi perdebatan panas ini, Klopp memilih meresponsnya dengan gaya yang santai dan penuh candaan.
"Cuacanya sangat panas dan ini bagus untuk para pemain, Apakah ini bagus untuk para pelatih? Ya, saya akan sangat menyukainya. Mungkin saat ini durasinya agak sedikit terlalu lama. Jelas terlalu lama karena untuk minum, Anda tidak membutuhkan waktu dua setengah menit atau semacamnya. Tapi begitulah kenyatannya,” ungkap Klopp melansir dari Goal International, Kamis (25/6/2026).
1. Cara Pandang Berbeda Klopp
Menurut pelatih berusia 59 tahun tersebut, pengalaman menyaksikan pertandingan langsung di stadion dengan menonton lewat layar kaca akan terasa sangat berbeda. Klopp secara blak-blakan bercanda bahwa jeda panjang tersebut sangat membantu dirinya yang sudah tidak muda lagi ketika harus menghabiskan waktu seharian di stadion.
"Ada kegunaannya dan ketika Anda berada di stadion, itu tidak masalah karena Anda mendapatkan sedikit hiburan, seperti di Dallas dengan para pemandu sorak (cheerleaders), yang saya nikmati melalui layar besar," sambung Klopp.
"Itu sama sekali tidak masalah, tapi saya paham ketika Anda duduk di rumah dan kemudian iklan dimulai… tapi di usia saya saat ini, itu adalah jeda yang menyenangkan untuk pergi ke toilet!” imbuhnya.
2. Penolakan Keras
Wajah Baru Masjidil Haram usai Perluasan Ketiga: Kapasitas Jemaah Bertambah, Akses Makin Mudah
Kebijakan ini berbanding terbalik dengan respons negatif dari tokoh-tokoh yang bertarung di lapangan. Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, meluapkan rasa frustrasinya karena interupsi yang terjadi setiap 22 menit sekali ini dianggap mengubah karakteristik dasar sebuah pertandingan sepak bola dan merugikan taktik tim yang mengandalkan intensitas tinggi serta tekanan konstan.
"Saya pikir hal ini mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola jauh lebih besar dari yang saya kira. Ini membagi pertandingan hampir menjadi empat kuartal. Dan saya pikir itu mengubah karakteristik pertandingan lebih dari yang saya kira,” terang Tuchel.
Sementara itu, kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk, menilai sistem ini membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel ketimbang langsung menyamaratakan aturan di seluruh laga. Ia juga mengkritik bagaimana jeda tersebut mengganggu kenyamanan para penonton layar kaca.
"Jeda hidrasi ini agak menarik, karena saya jelas menonton hampir semua pertandingan hingga hari ini, dan setiap kali beralih ke iklan rasanya agak… Bukan hal yang sangat saya sukai," jelas Van Dijk.
"Saya pikir bagi penonton netral di TV, itu juga tidak bagus. Jika cuacanya sangat panas, jelas akan bagus jika diterapkan. Namun menurut saya, Anda harus melihatnya secara terpisah di setiap pertandingan. Tapi saya pikir saya sudah cukup berbicara tentang hal itu,” tutup bek Liverpool tersebut.










