WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
PARIS - Gelombang panas mematikan di Eropa telah bergerak ke timur, dengan ratusan juta orang masih kepanasan di seluruh Benua Biru. Gelombang panas yang intens tetap tercatat di seluruh Eropa tengah dan timur dengan setidaknya 191 juta warga Eropa diperkirakan akan menghadapi suhu di atas 35°C sepanjang hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan telah mencatat lebih dari 1.300 kematian sebagai dampak suhu panas di Eropa sejak 21 Juni. Secara keseluruhan, sekitar 381 juta warga Eropa diperkirakan akan mengalami suhu di atas 30°C, menurut analisis berdasarkan prakiraan dari Layanan Meteorologi Jerman dan data populasi.
Jerman, Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria, dan Ukraina barat juga dilaporkan tengah menghadapi cuaca panas ekstrem.
"Bukan Sebuah Kegagalan"
"Saat ini, 150 juta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik kewalahan," kata Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui akun X miliknya, sebagaimana dilansir TRT.
Kedatangan badai membawa sedikit kelegaan pada malam hari, terutama di Prancis setelah beberapa hari berturut-turut didera suhu mendekati 40°C. Namun, badai tersebut juga menyebabkan kerusakan; seorang pria dilaporkan meninggal dunia di dekat Brussels ketika sebuah pohon tumbang menimpa mobilnya, menurut laporan media lokal.
Di Prancis, peringatan panas tingkat tertinggi diperkirakan akan mereda pada Minggu (28/6/2026) malam, meskipun jutaan orang terus mengalami kondisi cuaca yang sangat panas.
Negara tersebut masih dihantui oleh gelombang panas tahun 2003—yang terburuk di Eropa dalam beberapa abad—yang menewaskan sekitar 15.000 orang. Otoritas Prancis sangat mengkhawatirkan adanya lonjakan jumlah kematian pada gelombang kali ini.
Badan kesehatan nasional Prancis mengatakan telah mencatat sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari yang diperkirakan sejak 24 Juni, dan memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan akan meningkat lebih lanjut. Banyak dari korban jiwa tersebut adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas.
Namun, Menteri Kesehatan Stephanie Rist mengatakan Prancis "mungkin" akan menghindari terulangnya tragedi gelombang panas dahsyat tahun 2003, dengan alasan kesiapan sistem yang lebih baik di panti-panti jompo.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez juga menolak kritik atas respons pemerintah terhadap krisis ini dengan menegaskan, "Ini bukan kegagalan; kami sudah siap."
Rekor Suhu Terpecahkan
Suhu melonjak di atas 40°C di beberapa negara saat gelombang panas memecahkan rekor di seluruh Eropa tengah dan timur.
Polandia mencatat rekor tertinggi baru sepanjang masa dengan suhu mencapai 40,5°C di kota Slubice bagian barat, menurut institut meteorologi nasional setempat.
Jerman mencatatkan rekor nasional baru dengan suhu 41,7°C di Coschen, dekat perbatasan Polandia, melampaui rekor tertinggi yang ditetapkan sehari sebelumnya. Sementara itu, Republik Ceko juga memecahkan rekor untuk hari kedua berturut-turut, dengan suhu 41,1°C tercatat di Doksany, utara Praha.
Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) menambahkan bahwa peningkatan suhu ekstrem ini jelas mulai memengaruhi kehidupan laut dan keanekaragaman hayati secara signifikan.










