72 Tahun Menunggu, Xhaka: Saatnya Swiss Menulis Sejarah Baru
Kapten Timnas Swiss, Granit Xhaka, mengajak seluruh rakyat Swiss untuk terus bermimpi. Di hadapan tantangan terbesar mereka di Piala Dunia 2026, gelandang berusia 33 tahun itu yakin tidak ada mimpi yang mustahil diwujudkan.
Swiss akan menghadapi juara bertahan Argentina pada laga perempat final di Stadion Arrowhead, Kansas City, Minggu (12/7/2026). Jika mampu menumbangkan tim yang dipimpin Lionel Messi, Swiss akan mencatat sejarah dengan lolos ke semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Bagi Xhaka, kesempatan ini bukan sekadar pertandingan sepak bola, melainkan peluang untuk mengubah sejarah. "Kepada para pendukung, teruslah bermimpi. Saya selalu menjadi orang yang percaya pada mimpi, dan mimpi bisa menjadi kenyataan," ujar Xhaka dikutip dari France24.
Baca Juga:Norwegia vs Inggris: Haaland Tagih Janji Rooney Mendayung di Sungai Mersey
Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia U-19 vs Kamboja di Perebutan Peringkat 3 Piala AFF U-19 2026
Mantan gelandang Arsenal dan Bayer Leverkusen itu menambahkan mimpi tidak akan datang begitu saja. Dibutuhkan kerja keras, keberanian, dan tekad untuk melampaui batas kemampuan."Kalau kami ingin mewujudkan mimpi itu, kami harus bekerja keras, berjuang, dan memberikan 100 persen kemampuan. Terkadang kami juga harus melakukan sesuatu yang berbeda dan mendorong batas kemampuan kami untuk bisa mengalahkan Argentina. Saya yakin tim ini siap."
Misi Sulit Menghentikan Messi
Menghadapi Argentina berarti menghadapi Messi, yang hingga perempat final telah menjadi salah satu pencetak gol terbanyak turnamen dengan delapan gol. Xhaka mengakui bahwa menghentikan Messi selama 90 menit hampir mustahil.Meski begitu, ia percaya Swiss tetap memiliki peluang jika bermain disiplin. "Saya tidak tahu apakah kami bisa menghentikannya selama 90 menit. Itu akan sangat sulit. Tetapi kami harus bermain cerdas, tetap rapat, menutup ruang, dan tidak memberinya terlalu banyak kebebasan. Ketika kami menguasai bola, dia juga tidak akan bisa bergerak dengan leluasa," ujar Xhaka.
Laga melawan Argentina memiliki arti istimewa bagi Xhaka. Selama kariernya yang panjang, ia telah merasakan atmosfer pertandingan besar bersama klub-klub elite Eropa. Namun, kesempatan membawa Swiss menembus semifinal Piala Dunia dinilainya jauh lebih berharga.
Baca Juga:FIFA Larang Wasit Inggris Pimpin Argentina, Kenapa?Swiss terakhir kali mencapai perempat final pada edisi 1954 saat menjadi tuan rumah. Kini, setelah penantian selama 72 tahun, mereka kembali berada di titik yang sama.
"Setelah 72 tahun, berada di sini bersama Swiss dan menghadapi juara bertahan adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Tetapi saya datang bukan hanya untuk berbicara. Saya ingin mengambil langkah berikutnya. Kami sudah sangat dekat, dan saya benar-benar menginginkannya."
"Saya lapar akan kemenangan. Sekarang kami hanya perlu menunjukkan hasrat itu di lapangan. Kami sudah siap dan saya yakin kami bisa memberikan banyak masalah bagi Argentina," imbuh Xhaka.









