Xi Jinping Telepon Trump: AS Harus Hati-hati dalam Memasok Senjata ke Taiwan!
Presiden China Xi Jinping menyebut Taiwan sebagai isu terpenting dalam hubungan China dan Amerika Serikat (AS) selama percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu.
Xi Jinping kemudian memberi tahu Trump untuk "berhati-hati" dalam memasok senjata ke pulau itu, menurut laporan media pemerintah China, Xinhua, Kamis (5/2/2026). Laporan tersebut menambahkan bahwa Xi Jinping sangat mementingkan hubungan dengan Washington dan berharap kedua belah pihak akan menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan mereka.
Trump sendiri menyebut percakapan telepon itu "sangat baik" serta "panjang dan menyeluruh".
Baca Juga: Rusia Tegaskan Dukungan Tak Tergoyahkan untuk China atas Taiwan
Percakapan telepon pada hari Rabu tersebut menyusul serangkaian kunjungan para pemimpin Barat, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, ke China dalam beberapa bulan terakhir, dengan harapan dapat memperbaiki hubungan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Trump dijadwalkan mengunjungi China pada April mendatang, sebuah perjalanan yang menurutnya "sangat dinantikan".Dia menambahkan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan untuk membeli 20 juta ton kedelai AS, naik dari 12 juta ton saat ini."Hubungan dengan China, dan hubungan pribadi saya dengan Presiden Xi, sangat baik, dan kami berdua menyadari betapa pentingnya untuk menjaganya tetap seperti itu," tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Kedua pemimpin terakhir kali berbicara melalui telepon pada bulan November tentang berbagai isu termasuk perdagangan, invasi Rusia ke Ukraina, fentanyl, dan Taiwan, menurut Trump dan Kementerian Luar Negeri China.
Selain Taiwan dan kedelai, Trump dan Xi juga membahas perang Rusia di Ukraina, situasi terkini di Iran, dan pembelian minyak dan gas China dari AS dalam percakapan telepon tersebut.
Mengenai Taiwan, Xi Jinping mengatakan bahwa pulau yang berpemerintahan sendiri itu adalah wilayah China. "Beijing harus melindungi kedaulatan dan integritas teritorial [Taiwan]," katanya."Amerika Serikat harus menangani masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan bijaksana," kata Xi kepada Trump, menurut laporan Xinhua.
China telah lama berjanji untuk bersatu kembali dengan Taiwan dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk melakukannya.
AS memiliki hubungan formal dengan Beijing, bukan Taiwan, dan telah menempuh jalan diplomatik yang sulit selama beberapa dekade. Namun, AS tetap menjadi sekutu kuat Taiwan dan merupakan pemasok senjata terbesar pulau itu.
Pada bulan Desember, pemerintahan Trump mengumumkan penjualan senjata besar-besaran senilai sekitar USD11 miliar ke Taiwan, yang mencakup peluncur roket canggih, howitzer swa-gerak, dan berbagai rudal.
Beijing mengatakan pada saat itu: "Upaya untuk mendukung kemerdekaan [Taiwan] ini hanya akan mempercepat dorongan menuju situasi berbahaya dan kekerasan di Selat Taiwan.""Sama seperti Amerika Serikat memiliki kekhawatiran, China pun demikian," imbuh Xi Jinping kepada Trump dalam percakapan telepon pada hari Rabu.
"Jika kedua pihak bekerja ke arah yang sama dalam semangat kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan, kita pasti dapat menemukan cara untuk mengatasi kekhawatiran masing-masing," katanya.
Beberapa jam sebelum panggilan teleponnya dengan Trump, Xi Jinping mengadakan pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di mana keduanya memuji penguatan hubungan antara Beijing dan Moskow.










