Idulfitri 1447 Hijriah, Nasaruddin Umar Bicara Makna Kemenangan di Tengah Krisis Global

Idulfitri 1447 Hijriah, Nasaruddin Umar Bicara Makna Kemenangan di Tengah Krisis Global

Nasional | sindonews | Sabtu, 21 Maret 2026 - 09:59
share

Miliarder sekaligus filantropis ternama, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura dalam usia 86 tahun. Ia merupakan salah satu alumnus perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Semarang.

Bambang Hartono dikenal sebagai pemilik perusahaan rokok besar Djarum dan pemegang saham utama Bank Central Asia. Jenazah almarhum dijadwalkan diterbangkan ke Indonesia pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk kemudian disemayamkan di beberapa lokasi sebelum dimakamkan di pemakaman keluarga di Jawa Tengah.

Baca juga: Berita Duka! Bos Group Djarum Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia

Di balik kesuksesannya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, banyak yang penasaran mengenai latar belakang pendidikan Bambang Hartono. Ia diketahui merupakan alumnus Universitas Diponegoro (Undip), tepatnya dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).

Ucapan duka cita pun disampaikan oleh pihak kampus melalui akun resmi Instagram @undip.official. Dalam pernyataannya, civitas academica Undip menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas wafatnya salah satu alumni terbaiknya. Mereka juga mengenang Bambang sebagai sosok yang bijaksana, penuh kebaikan, serta memberikan kontribusi besar yang menginspirasi banyak pihak.Dikutip dari berbagai sumber, perjalanan karier Bambang Hartono dimulai dari bangku kuliah di FEB Undip, Semarang. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia melanjutkan bisnis keluarga dengan mengelola PT Djarum usai wafatnya sang ayah pada 1963. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebakaran pabrik, ia berhasil membawa perusahaan tersebut tumbuh menjadi salah satu industri rokok terbesar di Indonesia.

Baca juga: Profil dan Biografi Michael Bambang Hartono: Orang Terkaya ke-4 RI yang Hobi Jajan di Pinggir Jalan

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan bisnisnya adalah keberanian mengambil alih Bank Central Asia pasca Krisis moneter Asia 1998. Di bawah kendali Grup Djarum melalui FarIndo Investments, BCA bertransformasi dari bank yang hampir kolaps menjadi bank swasta terbesar dan paling bernilai di Tanah Air. Strategi yang diterapkan Bambang bersama saudaranya berfokus pada efisiensi teknologi dan pelayanan nasabah, yang kini menjadi standar industri perbankan nasional.

Di luar dunia bisnis, Bambang Hartono juga dikenal sebagai atlet bridge kebanggaan Indonesia. Ia bahkan pernah mewakili Indonesia dalam ajang Asian Games 2018 dan berhasil meraih medali perunggu. Prestasi tersebut menjadikannya salah satu atlet tertua yang mampu meraih medali di kompetisi internasional, sekaligus menunjukkan semangat juang yang tak lekang oleh usia.

Selain itu, Bambang juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan jauh dari kesan glamor. Jiwa nasionalismenya tercermin dari kontribusinya di dunia olahraga dan pendidikan. Dalam peringatan 60 tahun FEB Undip, ia pernah menyampaikan orasi ilmiah tentang pentingnya pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan globalisasi dan revolusi industri 4.0.

Topik Menarik