Viral! Puluhan Ribu Lebah Serang Israel dan Kepung Pesawat Militer, Dianggap Hukuman Tuhan
Puluhan ribu lebah telah memenuhi langit di atas kota Netivot, Israel. Serangan aneh tersebut, yang videonya sekarang viral, memicu kekhawatiran di kalangan warganet bahwa itu adalah hukuman Tuhan seperti kejadian-kejadian yang tertulis di Alkitab dan Al-Qur'an.
Kejadian itu berlangsung pada Rabu lalu. Pihak berwenang telah mendesak penduduk dan pemilik toko di pusat komersial Netivot untuk menutup jendela dan pintu karena kawanan lebah turun ke daerah tersebut.
Baca Juga: Kubu Garis Keras Makin Desak Iran Membuat Bom Nuklir untuk Melawan AS-Israel
Puluhan ribu lebah itu terlihat berterbangan di atas jalanan, kendaraan yang diparkir, toko-toko, dan balkon.
Banyak pengguna media sosial mengaitkan pemandangan tak biasa itu dengan ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran, mengeklaim bahwa pemandangan itu menandakan bencana yang akan datang.
Beberapa dari mereka membandingkannya dengan peringatan alkitabiah dalam Deuteronomy 1:44 (Ulangan 1:44), yang menggambarkan musuh-musuh mengejar manusia "seperti kawanan lebah.""Orang-orang Amori yang tinggal di bukit-bukit itu keluar melawan kamu; mereka mengejar kamu seperti kawanan lebah," demikian bunyi ayat tersebut.Beberapa penonton juga menunjuk pada Isaiah 7:18 (Yesaya 7:18), yang merujuk pada "lebah yang ada di tanah Asyur", sebuah ayat yang sering dikaitkan dengan peringatan akan datangnya penghakiman.
Meskipun kawanan lebah tersebut menggemakan gambaran Alkitab yang dramatis, para pakar mengatakan bahwa peristiwa seperti itu biasanya disebabkan oleh perkembangbiakan alami di musim semi, yakni ketika sarang yang terlalu padat terpecah dan ribuan lebah pergi bersama ratu untuk mendirikan koloni baru.
Fenomena ini bersifat musiman dan normal, sering dipicu oleh cuaca hangat dan tanaman berbunga yang melimpah.
Laporan media lokal menyatakan bahwa kawanan lebah itu juga telah berpindah ke lingkungan perumahan, dan warga diperingatkan untuk tidak mendekati lebah-lebah tersebut.Otoritas Israel telah mengirimkan petugas untuk menyingkirkan kawanan lebah dan melacak asal mula serangan mendadak ini. Menurut beberapa laporan media lokal, militer Israel juga menghadapi masalah karena lebah-lebah tersebut telah sepenuhnya mengepung pesawat sehingga mustahil bagi mereka untuk terbang.
Seorang pengguna media sosial, yang menyamakan kejadian tersebut dengan Ulangan 1:44, mengatakan: "Ini menggambarkan kekalahan militer bangsa Israel setelah mereka tidak menaati perintah Tuhan untuk maju dan menduduki tanah itu. Alih-alih mempercayai Tuhan, mereka maju sendiri, dan orang Amori menyerang mereka."
Pengguna media sosial lain berbagi di X: "Dalam Yesaya 7:18, Tuhan menggunakan metafora lebah untuk menggambarkan pasukan penyerang yang dibawa untuk menghukum bangsa Israel: 'Pada hari itu Tuhan akan bersiul memanggil lalat yang ada di ujung sungai Mesir, dan lebah yang ada di tanah Asyur'."
"Siulan Tuhan ini membawa pasukan Asyur (lebah) ke tanah Yehuda, yang digambarkan sebagai agen penghakiman ilahi yang cepat, agresif, dan menyengat," paparnya, seperti dikutip Mail Online, Jumat (17/4/2026).
Para pakar mencatat bahwa kawanan besar lebah dapat terlihat mengkhawatirkan tetapi seringkali merupakan tanda populasi lebah yang sehat dan berkembang, bukan yang berbahaya.Ketika koloni lebah berkembang pesat selama musim puncak konsumsi nektar, mereka menghasilkan ratu tambahan dan terbagi menjadi beberapa kelompok, meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa kawanan lebah yang sangat terlihat di daerah-daerah padat penduduk.
Bentang alam Israel juga berperan, karena negara ini terletak di sepanjang koridor migrasi utama bagi serangga dan penyerbuk yang bergerak antara Afrika, Eropa, dan Asia. Dikombinasikan dengan pertanian yang padat, termasuk kebun jeruk, bunga liar, dan lahan pertanian yang diairi, hal ini menciptakan kondisi makanan yang ideal yang dapat mendukung populasi lebah yang luar biasa besar pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.
Perluasan kota semakin meningkatkan pertemuan antara manusia dan lebah.
Seiring pertumbuhan kota, lebah semakin banyak membuat sarang di dinding, atap, kotak utilitas, dan bangunan terbengkalai, yang berarti bahwa ketika koloni berpindah tempat, mereka lebih cenderung muncul di atas jalan, pasar, dan lingkungan perumahan daripada di ladang terpencil.
Pola cuaca juga dapat berkontribusi pada penampakan massal lebah secara tiba-tiba, dengan periode suhu hangat diikuti oleh angin sepoi-sepoi yang dapat mendorong lebah untuk meninggalkan sarang yang sudah ada pada waktu yang bersamaan, menciptakan penampakan kawanan yang terkoordinasi bahkan ketika pergerakan tersebut merupakan bagian dari perilaku koloni yang rutin.Para spesialis juga menunjukkan bahwa adegan dramatis ini jarang dikaitkan dengan agresi. Lebah yang berkerumun biasanya fokus pada melindungi ratu mereka dan menemukan lokasi sarang baru, sehingga mereka kurang defensif daripada lebah yang menjaga sarang yang sudah ada.
Kawanan lebah ini muncul kurang dari sebulan setelah ribuan burung gagak memenuhi langit di atas Tel Aviv. Kejadian serbuan gagak pada 24 Maret juga diikuti oleh klaim orang-orang sebagai peringatan "pertanda malapetaka".
"Ini dianggap oleh banyak orang sebagai 'pertanda malapetaka' karena sering diikuti oleh bencana total," tulis seorang pengguna di X, sementara yang lain mengaitkannya dengan nubuat Alkitab.
WFP Peringatkan Konflik Timur Tengah Bisa Dorong 45 Juta Orang dalam Kelaparan Akut pada Juni
Ada juga warganet yang mengaitkan serbuan lebah di Israel ini dengan Surah Al-A'raf (7:133), sebuah ayat dari Al-Qur'an yang mengatakan, “Maka Kami turunkan kepada mereka banjir, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda-tanda yang nyata, tetapi mereka sombong dan merupakan kaum yang durhaka."







