7 Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, 1.614 Jiwa Terdampak

7 Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, 1.614 Jiwa Terdampak

Nasional | sindonews | Minggu, 19 April 2026 - 11:40
share

Banjir dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dalam durasi cukup lama terjadi di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (18/4/2026). Fenomena itu kemudian menyebabkan peningkatan debit air sungai hingga meluap dan merendam permukiman warga di beberapa kecamatan.

Berdasarkan data sementara yang dikantongi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir berdampak pada lima kecamatan dan tujuh desa, yaitu Desa Barengkok dan Pangaur di Kecamatan Jasinga, Desa Dago dan Jagabaya di Kecamatan Parung Panjang, Desa Kampung Sawah di Kecamatan Rumpin, Desa Ciomas di Kecamatan Tenjo dan Desa Rengasjajar di Kecamatan Cigudeg.

“Total warga terdampak mencapai 469 kepala keluarga atau 1.614 jiwa. Sebanyak 23 jiwa dari 6 KK sempat mengungsi, sementara 6 jiwa dari 2 KK berada dalam kondisi terancam, dan dilaporkan 1 orang mengalami luka ringan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/4/2026).

Baca juga: MUI Ingatkan Penguburan Hidup-hidup Ikan Sapu-sapu Tak Sesuai Prinsip Islam

Pria yang akrab disapa Aam ini menuturkan, kerugian materiil tercatat meliputi 467 unit rumah terdampak, 2 unit rumah terancam, 2 fasilitas pendidikan terdampak, 4 jembatan terdampak, serta 3 titik tembok penahan tanah (TPT) mengalami kerusakan. Hingga Minggu (19/4/2026), kondisi banjir dilaporkan berangsur surut dan sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing-masing.

“Namun demikian, sebagian warga di Desa Rengasjajar masih mengungsi di Masjid Al-Kautsar karena rumah mereka masih dipenuhi lumpur. Akses jalan dan jembatan saat ini sudah dapat dilalui,” tuturnya.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering. Di wilayah rawan banjir dan cuaca ekstrem, masyarakat diminta untuk rutin memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melakukan evakuasi apabila terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda bahaya lainnya.

“Penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan jalur evakuasi juga perlu dipastikan oleh pemerintah daerah,” pungkasnya.

Topik Menarik