Mensos: Siswa Sekolah Rakyat Ditargetkan Capai 100 Ribu pada 2027

Mensos: Siswa Sekolah Rakyat Ditargetkan Capai 100 Ribu pada 2027

Nasional | sindonews | Minggu, 19 April 2026 - 20:41
share

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan siswa Sekolah Rakyat mencapai 100.000 pada tahun 2027. Tahun ini, alokasi peserta ditargetkan menembus lebih dari 30 ribu siswa.

"Jika seluruh target terealisasi, total penerima manfaat pada 2026 diproyeksikan melampaui 46 ribu siswa. Pada tahun 2027 jumlah itu ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 100 ribu siswa," ujar Gus Ipul, Minggu (19/4/2026).

Baca juga: Sekolah Rakyat Dinilai Mampu Perluas Akses Pendidikan Berkualitas

Untuk mendukung target tersebut, Gus Ipul mengatakan pemerintah menyiapkan pembangunan gedung permanen di lebih dari 100 titik tahun ini. "Sesuai arahan Presiden Prabowo, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki sedikitnya satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung sekitar 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA," ucapnya.

Program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan hasil nyata setelah berjalan lebih dari 9 bulan sejak dimulai pada 14 Juli 2025 lalu. Dia menyebut siswa kini tumbuh lebih percaya diri, disiplin, serta memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja."Siswa mulai lebih percaya diri, dia sudah memiliki minat dan tekad di bidang tertentu dan lebih penting lagi adalah anak-anak sudah memiliki kesadaran memanfaatkan kesempatan yang ada agar mereka benar-benar menjadi siswa yang memiliki ilmu, berkarakter, dan pintar," kata Gus Ipul.

Menurut dia, para lulusan Sekolah Rakyat akan terus didampingi hingga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo terhadap program prioritas ini.

Tantangan terbesar muncul pada masa awal pelaksanaan program. Dalam dua minggu hingga satu bulan pertama, siswa maupun guru menjalani proses adaptasi dengan sistem sekolah berasrama. Namun memasuki bulan kedua dan ketiga, ritme pendidikan dan pembelajaran mulai terbentuk dan berjalan semakin baik.

"Mulai terbangun kedisiplinan siswa untuk membiasakan mereka bangun pagi, mengikuti jadwal yang padat sampai malam hari. Itu memang memerlukan waktu," ucapnya.

Sekolah Rakyat menerapkan pendidikan terpadu. Pada pagi hari siswa mengikuti pembelajaran formal berbasis learning management system (LMS). Sementara, sore hingga malam hari difokuskan pada pembinaan karakter melalui pendampingan wali asrama dan wali asuh.

"Kita ingin anak-anak memiliki karakter kuat sebagai orang yang beragama, memiliki hubungan dengan Tuhan, bisa cinta sesama, cinta ilmu dan menyadari bahwa mereka adalah anak-anak Indonesia yang harus berkontribusi dalam kemajuan Indonesia di masa mendatang," ujarnya.

Menurut Gus Ipul, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian di antaranya pernah putus sekolah atau berisiko tidak melanjutkan pendidikan. Karena itu, program ini menjadi jalan perubahan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Topik Menarik