Bukan Sekadar Memoles Skor di Mata Dunia, Jakarta Harus Wujudkan Rasa Aman yang Merata
JAKARTA baru saja bersolek di panggung dunia. Dalam laporan Global Residence Index (GRI) 2026, Ibu Kota Indonesia ini mencatatkan sejarah dengan dinobatkan sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara. Berada tepat di bawah Singapura, Jakarta sukses melangkahi kota-kota besar seperti Bangkok, Kuala Lumpur, hingga Manila.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyambut antusias hasil survei ini. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan bahwa predikat ini murni hasil penilaian objektif lembaga internasional, bukan pesanan otoritas lokal.
Baca juga: 5 Negara Paling Aman di Dunia, Semuanya Dipengaruhi Kebijakan dan Budaya
"Untuk menjadi kota teraman bukan DKI Jakarta yang meminta. Sebelumnya kita biasanya di peringkat 5 hingga 7, sekarang nomor dua. Ini apresiasi atas kebersamaan kita," ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Timur, 11 April 2026.Senada dengan sang Gubernur, Wakil Gubernur Rano Karno melihat ada faktor "rasa" di balik angka tersebut. Wajah toleransi Jakarta yang tercermin melalui perayaan lintas budaya—mulai dari Christmas Carol hingga festival keagamaan di Bundaran HI—dianggap menjadi poin plus yang tertangkap radar dunia. Kondisi sosial yang stabil ini pun terbukti menjadi katalisator bagi ekonomi Jakarta yang tetap tangguh meski di tengah tantangan fiskal.
Skor Keamanan di Asia Tenggara (GRI 2026)
1. Singapura: 0,902. Jakarta: 0,723. Bangkok: 0,654. Vientiane: 0,615. Hanoi: 0,60Namun, di sela-sela gemerlap lampu gedung pencakar langit Sudirman, sebuah pertanyaan muncul dari gang-gang sempit dan padat: Benarkah Jakarta sesunyi dan seaman itu bagi warganya?
Baca juga: Negara dan Rasa Aman Anak
Antara Angka dan Rasa: Sebuah Anomali
Meski data menunjukkan kemajuan besar secara administratif, realita di lapangan sering kali bercerita lain. Ada jurang pemisah antara angka di laporan internasional dan rasa di teras rumah warga. Mengapa anomali ini terjadi?Metodologi GRI cenderung menitikberatkan pada indikator makro seperti stabilitas politik hingga rendahnya risiko konflik besar. Di atas kertas, Jakarta adalah juara. Namun, statistik megah ini kerap 'rabun' terhadap teror kecil di jalanan.
GRI gagal memotret kecemasan warga kelas menengah ke bawah yang masih harus berjibaku dengan jambret, copet, hingga begal di gang-gang sempit dan kawasan padat. Bagi mereka, keamanan bukan soal stabilitas negara, tapi soal selamatnya nyawa dan barang berharga dari bayang-bayang kejahatan jalanan.Jika berbicara lebih jauh lagi, Jakarta adalah kota dengan dua wajah yang saling memunggungi. Di satu sisi, terdapat kawasan 'bubble' seperti Menteng atau SCB, sebuah oase steril yang dipagari CCTV dan dikawal patroli 24 jam demi kenyamanan ekspatriat serta investor.
Namun, cukup bergeser sedikit ke arah pinggiran atau urban fringe, kemewahan itu menguap. Di sana, warga masih harus berjibaku dengan realita pahit seperti riuh tawuran antarwarga dan bayang-bayang pencurian kendaraan bermotor yang menghantui setiap malam.
Alarm dari Data Kriminalitas
Jika survei memberikan kehangatan prestasi, data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri justru menyuguhkan realita yang lebih dingin. Sepanjang 2025, sebanyak 414.812 kasus kejahatan tercatat di Indonesia naik 1,5 dari tahun sebelumnya.Hasil Timnas Indonesia vs Saint Kitts 2-0 di FIFA Series Babak I: Bintang Persib Borong Gol
Wilayah hukum Metro Jaya tetap berdiri di barisan teratas penyumbang angka kriminalitas. Meski Polri melaporkan kenaikan penyelesaian perkara hingga 43,22, muncul alarm yang lebih mencemaskan yakni tingginya keterlibatan anak dalam tindak kriminal.
Di titik inilah, predikat Jakarta sebagai kota teraman ke-2 di ASEAN terasa seperti sebuah paradoks. Prestasi ini memang layak dirayakan sebagai pengakuan dunia, namun tugas pemerintah belum usai.
Tantangan besarnya bukan lagi sekadar memoles skor di atas kertas, melainkan memastikan rasa aman itu benar-benar mendarat di setiap jengkal kota, mulai dari lobi hotel mewah hingga gang-gang sempit tempat warga biasa menyandarkan lelah.










