Presiden Pezeshkian Peringatkan AS Bisa Serang Iran Lagi selama Negosiasi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan Amerika Serikat (AS) dapat menyerang Teheran lagi selama negosiasi. Dia mengatakan kepercayaan terhadap Washington telah "hancur total".
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Pezeshkian mengatakan dialog dan diplomasi selalu menjadi prioritas utama Iran.
“Upaya untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan diplomasi dengan tanggung jawab Iran selalu menjadi agenda,” ujar Pezeshkian dalam komentarnya yang disiarkan Press TV milik pemerintah.
Dia menjelaskan, “Tetapi selama negosiasi, Amerika Serikat dan rezim Zionis (Israel) menyerang Iran dua kali, dan ada kemungkinan tindakan tersebut akan terulang – yang telah menyebabkan ketidakpercayaan total Iran terhadap Amerika Serikat.”
AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Juni 2025 di tengah negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Iran kembali menjadi sasaran gelombang serangan AS dan Israel pada bulan Februari setelah negosiasi program nuklir Iran.Lukashenko, di pihak lain, menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Teluk dan konsekuensi keamanan serta ekonominya bagi kawasan dan dunia.
Ia menyatakan harapan bahwa perbedaan antara Teheran dan Washington akan diselesaikan melalui dialog dan negosiasi.
AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap sekutu AS di Teluk dan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti pembicaraan di Islamabad pada 11 April, tetapi kesepakatan tidak dapat dicapai.
Presiden AS Donald Trump kemudian secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tanpa kerangka waktu baru, atas permintaan Pakistan.
Ia juga menolak proposal dari Iran, di mana Teheran menyarankan pembukaan kembali Selat Hormuz sambil menyerahkan pertanyaan tentang program nuklirnya untuk negosiasi selanjutnya.
Baca juga: AS Sudah Bombardir Iran 40 Hari, tapi Trump Menolak Menyebutnya sebagai Perang








