Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top

Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top

Nasional | sindonews | Sabtu, 20 Juni 2026 - 07:14
share

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan menampilkan 500 ondel-ondel saat peringatan 5 abad Jakarta pada tahun 2027. Hal itu disampaikan Pramono ketika memberikan sambutan dalam acara Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2026) malam.

Awalnya, Pramono menjelaskan alasannya menggelar haul akbar berlatar belakang ulama Betawi. Menurutnya, ini dalam rangka menjalankan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta. Dalam UU itu disebutkan budaya dan kultur utama di Jakarta saat ini adalah Betawi.

"Saya menggagas dan saya berkeinginan untuk mengadakan haul ulama, Habaib, tokoh nasional, yang berlatar belakang Betawi. Kenapa saya usulkan ini? Sebagai gubernur saya harus menjalankan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024," ucap Pramono.

Baca Juga: Ondel-Ondel, Bukan Sekadar Boneka Besar khas Betawi

Pramono tentunya sangat menginginkan budaya Betawi bisa bersaing di tingkat internasional, salah satunya ondel-ondel. Sebab, ondel-ondel memiliki nilai filosofis yang tinggi sebagai ikon budaya Betawi. "Saya ingin Betawi ini bisa bertarung secara internasional, maka kenapa secara pribadi sebagai gubernur contohnya, saya melarang ondel-ondel untuk menjadi cara untuk mencari ngamen. Padahal yang namanya ondel-ondel ini, saudara-saudara sekalian, nilai filosofinya luar biasa," ucap dia.

Untuk itu, ia pun berencana menampilkan 500 ondel-ondel agar budaya Betawi ini bisa dilirik dunia. Tak tanggung-tanggung, Pramono bakal menghadiri 500 ondel-ondel karya desainer ternama.

"Maka untuk itu dalam rangka 500 tahun nanti, saya akan menampilkan 500 ondel-ondel yang dibuat oleh desainer-desainer top, yang akan memberikan wajah baru ondel-ondel Jakarta," jelasnya.

Dalam kesempatan itu Pramono menceritakan pengalamannya yang kerap dikritik oleh banyak pihak lantaran menonjolkan identitas budaya Betawi di lingkungan Balai Kota. Salah satu kebijakan yang diterapkannya adalah mewajibkan penggunaan busana khas Betawi ketika kegiatan pelantikan pejabat.

"Saya sering dikritik oleh banyak orang, kenapa saya begitu keukeuh untuk wajah Betawi di Balai Kota ini menjadi nampak. Bahkan setiap pelantikan pejabat tidak boleh lagi memakai pakaian jas. Harus memakai ujung serong, kebaya encim, dan sebagainya," ucapnya.

Topik Menarik