Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur menjadi tuan rumah pertemuan masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren pada Sabtu (20/6/2026). Pertemuan yang mengusung tema Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama (NU) ini digelar menjelang Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama.
Tokoh yang hadir dalam pertemuan di antaranya, KH Nurul Huda Jazuli (Ponpes Ploso/Mustasyar PBNU), KH Anwar Manshur (Ponpes Lirboyo/Mustasyar PBNU), KH A Kafabihi Mahrus (Ponpes Lirboyo/ Rais Syuriyah PBNU, Prof Dr KH Ma'ruf Amin (Ponpes An Nawawi Tanara Banten/Mustasyar PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj (Ponpes Al-Tsaqafah Jakarta/Mustasyar PBNU).
Baca juga: PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Selanjutnya KH R Muhammad Khalil As'ad (Ponpes Wali Songo Situbondo, KH Abdullah Ubab Maimoen (Ponpes Al Anwar Sarang/ Mustasyar PBNU), KH Ali Akbar Marbun (Ponpes Al-Kautsar Medan/Syuriah PBNU), KH Ubaidillah Shodaqoh (Ponpes Al-Itqan Tlogosari/Rais Syuriyah PWNU Jateng).
Kemudian KH Ali Kholil (Rais Syuriyah PWNU Kaltim), Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim (Ponpes Amanatul Ummah/Ketum PERGUNU PBNU), KH Ah Syatibi Hambali (Ponpes Qotrotul Falah/Rais Syuriah PWNU Banten, serta KH Mas'ud Masduqi (Rais Syuriyah PWNU DIY).Dalam pernyataan tertulisnya, para masyayikh menyatakan bahwa pertemuan ini untuk memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari rahim pesantren
Baca juga: Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar
Pertemuan digelar setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Pertemuan para masyayikh ini menghasilkan tiga seruan.
Pertama, para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren.Dalam kaitan ini, para masyayikh meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter AHWA sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Oleh karena itu usulan penambahan syarat calon anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA) harus pengurus syuriyah dan didasarkan representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian juga, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga harus dibatalkan.
Seruan kedua, para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah.
Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Sedangkan seruan ketiga, para masyayikh menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.
Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan..










