Format Baru FIFA Bikin Jalan Argentina Lebih Mulus di Piala Dunia 2026
FIFA kembali menjadi sorotan di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026. Kali ini, perhatian tertuju pada aturan baru yang diterapkan dalam undian turnamen dan dinilai membuat jalur tim-tim unggulan, termasuk Argentina, lebih terlindungi hingga fase akhir kompetisi.
Argentina memastikan tempat di perempat final setelah menang dramatis 3-2 atas Mesir pada babak 16 besar. Juara bertahan itu selanjutnya akan menghadapi Swiss, salah satu tim dengan peringkat FIFA paling rendah di antara peserta yang masih bertahan. Jika terus melaju, Argentina baru berpotensi bertemu sesama unggulan utama pada semifinal.
Situasi tersebut tidak lepas dari perubahan format yang diperkenalkan FIFA pada November 2025. Dalam aturan baru itu, empat tim unggulan teratas dipisahkan dalam jalur berbeda agar tidak saling berhadapan sebelum semifinal, dengan syarat mereka mampu memenangi grup masing-masing.
Baca Juga: Skandal Piala Dunia 2026, Parlemen Eropa Minta Presiden FIFA Gianni Infantino Diinvestigasi
Pada undian Piala Dunia 2026, Spanyol dan Argentina sebagai unggulan pertama serta kedua ditempatkan di sisi berbeda bagan gugur. Prancis dan Inggris yang berada di posisi unggulan ketiga serta keempat juga dipisahkan ke jalur lain. Hasilnya, empat negara tersebut tidak dapat bertemu satu sama lain sebelum empat besar apabila sama-sama melaju sesuai jalur.Skema tersebut akhirnya berjalan seperti yang diperkirakan. Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris berhasil menjadi juara grup, lalu terus melaju ke fase gugur. Di perempat final, masing-masing menghadapi lawan berbeda, dengan Argentina bertemu Swiss, Inggris menghadapi Norwegia, Prancis melawan Maroko, sementara Spanyol berduel dengan Belgia.
Format itu memicu perdebatan karena dinilai menguntungkan negara-negara besar dengan menjaga mereka dari potensi pertemuan lebih awal. Namun, sistem pemisahan unggulan sebenarnya bukan hal baru dalam olahraga. Pola serupa juga digunakan di Wimbledon, Liga Champions format baru, hingga Piala Dunia Antarklub FIFA yang diperluas.
Meski demikian, aturan tersebut muncul ketika FIFA sedang menghadapi berbagai kritik mengenai integritas penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Kubu Mesir sebelumnya menuding pertandingan mereka melawan Argentina telah diatur agar Lionel Messi dan tim juara bertahan tetap bertahan lebih lama di turnamen demi kepentingan pemasaran.
Tuduhan itu mencuat setelah Mesir kalah 2-3 dari Argentina meski sempat unggul dua gol. Pelatih Hossam Hassan dan sejumlah pemain Mesir memprotes keputusan VAR yang membatalkan gol mereka serta insiden Mohamed Salah di kotak penalti yang tidak menghasilkan hadiah penalti sebelum gol kemenangan Argentina tercipta.
FIFA melalui Kepala Wasit Pierluigi Collina telah membantah tudingan tersebut. Collina menegaskan keputusan wasit dan VAR diambil secara independen, serta tidak dapat dipengaruhi pihak mana pun, termasuk Presiden FIFA Gianni Infantino.
Namun, polemik belum sepenuhnya reda. Argentina juga sempat menjadi bahan perdebatan setelah Lionel Messi lolos dari kartu merah dalam laga pembuka melawan Aljazair, sementara Timnas Amerika Serikat justru mendapat keuntungan ketika hukuman Folarin Balogun ditangguhkan. Di sisi lain, penunjukan seluruh perangkat pertandingan asal Argentina untuk laga Prancis kontra Maroko juga memunculkan tanda tanya dari sejumlah pihak.
Aturan pemisahan unggulan memang tidak otomatis membuktikan adanya perlakuan khusus untuk Argentina. Akan tetapi, dalam situasi ketika berbagai keputusan FIFA sudah lebih dulu dipertanyakan, jalur yang relatif lebih terbuka bagi Messi dan kolega menuju semifinal menjadi bahan perdebatan baru di Piala Dunia 2026.










