SDH Bali Komitmen Cetak Generasi Berakar Lokal dan Berwawasan Global

SDH Bali Komitmen Cetak Generasi Berakar Lokal dan Berwawasan Global

Nasional | sindonews | Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:05
share

Pelita Harapan Group (PHG) berkomitmen memajukan pendidikan di Bali. Komitmen tersebut diwujudkan dengan meluncurkan Sekolah Dian Harapan (SDH) Global Bali.

Peluncuran SDH Global Bali ini sebagai ruang pendidikan yang memadukan kualitas akademik berstandar global dengan pembentukan karakter, pengembangan potensi, serta penghargaan terhadap identitas dan lingkungan tempat peserta didik bertumbuh.

Grand Launching tersebut menjadi kelanjutan dari soft launching SDH Global Bali yang telah dilaksanakan sebelumnya. Kehadiran sekolah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pendidikan bagi keluarga di Bali di tengah semakin intensifnya interaksi masyarakat setempat dengan perkembangan teknologi, budaya, dan komunitas global.

Presiden Pelita Harapan Group Stephanie Riady mengatakan Bali memiliki konteks yang khas bagi pengembangan pendidikan karena keterbukaan masyarakatnya terhadap dunia berjalan berdampingan dengan kemampuan menjaga tradisi dan identitas lokal.

Baca juga: Pendidikan Jadi Prioritas 2027, Prabowo: Tidak Boleh Ada Lagi Cerita Sekolah Roboh“Setiap kali datang ke Bali, saya selalu mendapatkan kesan yang sangat kuat. Bali memiliki taksu, sebuah kemampuan yang luar biasa untuk menerima dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri. Di sini, tradisi hidup berdampingan dengan modernitas,” kata Stephanie di Badung, Bali, Sabtu (29/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menyimpan pelajaran penting bagi pendidikan, yakni bagaimana mempersiapkan anak menjadi bagian dari dunia tanpa membuat mereka kehilangan akar dan identitasnya. Prinsip itu semakin relevan ketika teknologi dan kecerdasan artifisial berkembang cepat serta mampu mengambil alih berbagai kemampuan yang sebelumnya dianggap hanya dapat dilakukan manusia.

Lihat video: Jambore Nasional XII Jadi Wadah Pendidikan Karakter Generasi Muda!

Oleh karena itu, pertanyaan pendidikan hari ini tidak cukup lagi sebatas apa yang harus diketahui anak, tetapi juga apa yang harus tetap menjadi kekuatan manusia ketika teknologi semakin pintar.

“Jawabannya adalah karakter, kebijaksanaan, integritas, keberanian, empati, kemampuan membedakan yang benar dan salah, serta iman yang memberikan arah bagi kehidupan. Kecerdasan saja tidak cukup. Pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan anak memperoleh nilai terbaik atau masuk ke universitas terbaik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia,” ujarnya.

Dia menilai pendidikan masa depan perlu mempersiapkan anak bukan hanya untuk menjawab ujian, tetapi juga menghadapi pertanyaan kehidupan yang jauh lebih kompleks mencakup apakah mereka dapat dipercaya, mampu menyelesaikan masalah, bekerja bersama orang yang berbeda, berani melakukan hal yang benar, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.Dia juga menempatkan relasi antara pendidik dan peserta didik sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Menurut dia, memilih sekolah pada akhirnya bukan semata persoalan kurikulum, fasilitas, maupun capaian akademik, tetapi juga memastikan setiap anak benar-benar dikenal sebagai pribadi.

“Apakah ada guru yang mengetahui ketika seorang anak sedang mengalami kesulitan? Apakah ada orang yang mampu melihat bakat dalam diri seorang anak bahkan sebelum anak itu menyadarinya? Apakah sekolah memberikan ruang bagi mereka untuk gagal, belajar, mencoba kembali, dan bertumbuh menjadi dirinya sendiri?” katanya.

Bali memberikan ruang yang unik karena anak-anak tumbuh di tengah perjumpaan berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan cara pandang. Namun, terpapar pada dunia tidak otomatis berarti memahami dunia, sebagaimana menjadi global tidak berarti semakin jauh dari Indonesia.

“Justru saya percaya, semakin kuat akar seorang anak, semakin percaya diri ia menghadapi dunia. Saya ingin anak-anak kita mampu belajar di Bali, melanjutkan pendidikan di universitas terbaik di mana pun, kemudian menjadi ilmuwan, pengusaha, pendidik, seniman, pemimpin, atau profesi apa pun yang mereka pilih, tanpa kehilangan pertanyaan tentang apa yang dapat saya lakukan dengan pengetahuan ini untuk memberikan manfaat bagi Indonesia dan bagi sesama?” ujarnya.

Atas dasar itu, Stephanie menegaskan SDH Global Bali tidak diarahkan menjadi institusi pendidikan yang terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Sekolah perlu belajar dari masyarakat dan membangun keterhubungan dengan ekosistem pendidikan serta komunitas di sekitarnya.“SDH Global Bali tidak boleh hanya menjadi SDH Global yang kebetulan berlokasi di Bali. Sekolah ini harus menjadi bagian dari Bali, belajar dari Bali, bertumbuh bersama masyarakat Bali, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya. Sekolah yang baik tidak boleh menjadi sebuah pulau di dalam sebuah pulau,” katanya.

Bagi Stephanie, ukuran keberhasilan sekolah juga tidak terletak pada seremoni peluncuran. Hasil pendidikan baru akan terlihat dalam jangka panjang, antara lain ketika lulusan memilih kejujuran meskipun terdapat jalan yang lebih mudah, menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, menjadi pemimpin yang bersedia melayani, serta tetap rendah hati ketika mencapai keberhasilan.

“Hari ini kita memang meresmikan sebuah sekolah. Namun yang sesungguhnya ingin kita buka adalah kemungkinan-kemungkinan baru bagi anak-anak, keluarga, Bali, dan Indonesia. Semoga SDH Global Bali bukan sekadar menjadi sekolah yang berada di Bali, tetapi sekolah yang belajar dari Bali, bertumbuh bersama Bali, dan dari Bali ikut mempersiapkan generasi Indonesia yang siap memberi makna bagi dunia,” kata Stephanie.

School System Coordinator Sekolah Dian Harapan (SDH) dan Director of Enrollment & New School Initiatives Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH)/Pelita Harapan Group (PHG), Deny Kiswanto Sinaga, pada kesempatan yang sama mengatakan pendidikan anak membutuhkan kemitraan antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Menurut dia, tanggung jawab sekolah tidak berhenti pada keberhasilan akademik, tetapi turut membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Pelita Harapan Group saat ini melayani lebih dari 45.000 peserta didik aktif di 73 lokasi di Indonesia, mulai jenjang K–12 hingga perguruan tinggi.Sementara itu, Academic Advisor SDH Dr. Barry Shealy mengatakan standar akademik global tidak cukup dibangun hanya dengan mengadopsi kurikulum internasional. SDH Global Bali menggunakan Cambridge International sebagai kerangka akademik, sementara kualitas pembelajaran ditopang oleh pengembangan guru melalui pelatihan, coaching, kolaborasi, serta peningkatan praktik pembelajaran secara berkelanjutan.

Executive Director of UPH Sports and Sports Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), Dr. Stephen L. Metcalfe, menambahkan pendidikan holistik perlu memberikan ruang yang seimbang bagi perkembangan spiritual, akademik, sosial, emosional, dan fisik peserta didik. Dalam konteks olahraga, misalnya, pengembangan kemampuan tidak hanya diarahkan pada prestasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk disiplin, ketekunan, kerendahan hati, kerja sama, dan kepemimpinan sehingga anak belajar berkompetisi dengan karakter.

Grand Launching SDH Global Bali turut dihadiri Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Bali Vera Laksmi Dewi, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Denpasar Suryadana, perwakilan DPMPTSP Kota Denpasar Heny, serta Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Denpasar Barat Ketut Sulendra.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterhubungan antara pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun lingkungan pendidikan yang mampu mempersiapkan anak menghadapi perubahan dunia, sekaligus tetap mengenali akar budaya, identitas kebangsaan, dan tanggung jawabnya kepada sesame.

Topik Menarik