Dunia Kehilangan Jalan Pulang kepada Perdamaian

Dunia Kehilangan Jalan Pulang kepada Perdamaian

Nasional | sindonews | Senin, 21 September 2026 - 12:56
share

Ridwan al-MakassaryDosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

HINGGA kini, perang Rusia dan Ukraina telah berlangsung lebih dari empat tahun dengan menghasilkan banyak korban jiwa dan infrastruktur yang tak ternilai. Sedangkan perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sudah memasuki hari ke-205 dengan dampak kemanusiaan yang luar biasa. Dan, tampaknya perdamaian abadi masih dalam balutan kabut ketidakpastian.

Sebagai satu akibat, perang telah meluas ke tingkat regional bahkan dampaknya menyentuh global. Masyarakat dunia terbelah dan pengungsi berpindah dari satu perbatasan ke perbatasan lain. Juga, ketidakpercayaan terhadap institusi internasional meningkat. Dan dialog—yang seharusnya menjadi jembatan ketika perbedaan menjadi tajam—justru semakin dihardik.

Inilah situasi global yang merundung Hari Perdamaian Internasional tahun 2026. Setiap 21 September, dunia membicarakan perdamaian sembari lonceng perdamaian dibunyikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun ini mengusung tema “Invest in Peace – For Everyone, Everywhere, Every Day”. Pesannya menggemakan perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan investasi, kerja, keberanian, dan pilihan politik yang terus-menerus.

Praktiknya, para pemimpin dunia menyerukan penghentian kekerasan. Masyarakat sipil menggelar dialog perdamaian. Anak-anak menggambar burung merpati dan menuliskan satu kata yang sama, yaitu peace. Tetapi, dunia di luar seremoni itu tetap bergolak dalam konflik politik yang hebat.Pertanyaan mendasar yang perlu didiskusikan adalah mengapa dunia begitu sulit berinvestasi pada perdamaian, sementara kita semua tahu harga perang begitu mahal? Dunia yang semakin terhubung, tetapi semakin terpisah secara kemanusiaan.

Teknologi telah membuat dunia semakin dekat, di mana sebuah peristiwa di satu sudut planet dapat disaksikan jutaan orang dalam hitungan detik. Komunikasi lintas benua berlangsung tanpa batas.

Manusia dapat berbicara dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Tetapi, kedekatan teknologi tidak otomatis menghasilkan kedekatan kemanusiaan. Dekat tetapi berjarak. Singkatnya, dunia digital kadang justru memperdalam jarak.

Kita hidup dalam ruang-ruang gema yang membuat kita hanya mendengar suara yang kita sukai. Algoritma mengenali kemarahan kita dan memberinya lebih banyak asupan makanan. Berita yang berbeda dari keyakinan kita dianggap propaganda. Orang yang berbeda pandangan dengan cepat diberi label sebagai musuh.

Akibatnya, manusia tidak hanya berbeda dalam pendapat. Kita mulai berbeda dalam realitas, di mana menguat siapa kita dan siapa mereka. Masing-masing kelompok memiliki fakta, korban, pahlawan, dan penjahatnya sendiri. Di titik inilah polarisasi menjadi berbahaya. Bukan karena perbedaan itu sendiri buruk, tetapi karena kita kehilangan kemampuan untuk hidup dengan perbedaan dan akhirnya berkonflik satu sama lain.

Konflik dan perang selalu membutuhkan sesuatu sebelum senjata ditembakkan: dehumanisasi. Manusia harus terlebih dahulu berhenti melihat manusia lain sebagai manusia. Ia berubah menjadi angka. Menjadi target. Menjadi ancaman. Menjadi “mereka”.

Sejarah memperlihatkan bahwa ketika proses dehumanisasi telah berhasil, kekerasan menjadi jauh lebih mudah dibenarkan. Inilah mengapa perdamaian tidak cukup dipahami sebagai penghentian tembakan. Ceasefire penting, tetapi ia bukan akhir dari perdamaian. Ia baru pintu masuk.

Perdamaian yang sesungguhnya menuntut kita mengembalikan martabat manusia kepada mereka yang telah kehilangan wajahnya dalam konflik. Seorang anak bukan statistik pengungsi. Seorang ibu bukan angka korban sipil. Seorang prajurit bukan sekadar seragam musuh. Sebuah komunitas bukan sekadar blok geopolitik.

Di balik setiap angka terdapat manusia yang memiliki nama, keluarga, ketakutan, dan harapan. Mungkin inilah pekerjaan perdamaian yang paling mendasar, yaitu mengembalikan wajah manusia kepada “yang lain”. Krisis perdamaian adalah krisis politik, di mana kita juga perlu jujur bahwa perdamaian tidak hanya menghadapi persoalan moral. Lebih dari itu, ia menghadapi persoalan politik. Dunia internasional dibangun di atas kepentingan.

Negara mempertahankan kepentingan dan keamanan nasionalnya. Kekuatan besar mengejar pengaruhyang berakibat aliansi dibentuk dan dibubarkan. Juga, kkepentingan ekonomi berkelindan dengan kepentingan geopolitik.

Sekjen PBB António Guterres dalam pesan Hari Perdamaian 2026 mengingatkan bahwa konflik semakin kompleks, solidaritas global melemah, dan dialog mengalami kemunduran. Karena itu ia menyerukan kembali penggunaan instrumen yang telah terbukti—diplomasi, dialog, negosiasi, dan peacekeeping.

Masalahnya, multilateralisme sendiri sedang mengalami krisis kepercayaan yang akut. Ketika institusi internasional dianggap tidak mampu mencegah kekerasan atau memastikan aturan berlaku secara konsisten, pertanyaan yang muncul menjadi lebih mendasar: Apakah dunia masih percaya pada aturan yang sama?

Tanpa kepercayaan terhadap institusi dan hukum internasional, perdamaian mudah berubah menjadi jeda sementara sebelum konflik berikutnya. Yang berlaku adalah perspektif realisme yang menekankan pada obsesi kekuasaan.

Pungkasannya, di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, investasi yang paling mendesak adalah bukan investasi untuk memenangkan perang, tetapi investasi agar manusia tidak lagi membutuhkan perang untuk merasa menang. Perdamaian dimulai ketika kita berhenti bertanya siapa yang harus dikalahkan, dan mulai bertanya bagaimana kita semua dapat hidup sebagai manusia yang saling memulyakan manusia yang lain.

Topik Menarik