Kisah Abu Thalhah, Sahabat Nabi SAW yang Wafat di Laut dan Jasadnya Tetap Utuh
Kisah Abu Thalhah al-Ansharimenjadi salah satu teladan tentang bagaimana para sahabat Nabi Muhammad menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Bahkan ketika usia telah lanjut, ia tetap memilih berjuang setelah mendengar seruan ayat Allah SWT.
Abu Thalhah al-Anshari merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammadyang dikenal memiliki banyak kelebihan. Nama aslinya adalah Zaid bin Sahal an-Najjary, seorang lelaki dari Bani Najjar. Ia dikenal memiliki paras yang tampan, tubuh yang kuat dan kehidupan ekonomi yang berkecukupan. Kedudukannya di tengah masyarakat Yatsrib juga cukup terpandang.
Abu Thalhah dikenal sebagai penunggang kuda yang tangguh dan pemanah ulung. Kemampuan tersebut membuatnya menjadi salah seorang sosok yang disegani di kalangan masyarakatnya.
Namun, setelah memeluk Islam, berbagai kelebihan tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan dirinya. Harta, waktu, tenaga, kedudukan, pikiran hingga kehidupannya ia persembahkan untuk Islam. Pengorbanan tersebut terus dilakukannya hingga usia lanjut. Suami Ummu Sulaim ini termasuk sahabat yang dikaruniai umur panjang.Baca juga:Jenazah Tenggelam dan Tubuhnya Rusak, Begini Hukum Memandikannya
Tetap Ingin Berperang di Usia Senja
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, kaum Muslimin terlibat dalam peperangan di lautan. Abu Thalhah yang telah berusia lanjut tetap ingin bergabung bersama pasukan. Keinginan tersebut sempat ditentang oleh anak-anaknya."Wahai Bapak, Bapak sudah tua. Bapak sudah turut berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kini waktunya Bapak beristirahat. Biarlah kami yang menggantikan Bapak berperang," kata anak-anaknya.
Namun, Abu Thalhah memiliki jawaban lain. Ia kemudian membacakan firman Allah SWT:
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS At-Taubah [9]: 41).Ayat tersebut menjadi pegangan Abu Thalhah. Ia memahami ayat itu sebagai seruan untuk tetap berjuang di jalan Allah. Karena itu, meskipun telah lanjut usia, Abu Thalhah tidak ingin tinggal di rumah. Ia pun menolak permintaan anak-anaknya dan memilih berangkat bersama pasukan kaum Muslimin.
Wafat di Tengah Laut
Abu Thalhah akhirnya mengikuti perjalanan pasukan melalui laut. Namun, ia meninggal dunia sebelum kapal mencapai daratan.Dalam kisah yang diriwayatkan, Abu Thalhah disebut meninggal sekitar satu pekan sebelum kapal menemukan daratan. Selama beberapa hari berada di kapal, jasadnya disebut tidak mengalami perubahan. Ia bahkan terlihat seperti orang yang sedang tidur.Riwayat tentang wafatnya Abu Thalhah di tengah laut juga disebut dalam as-Sunan al-Kubra karya Imam al-Baihaqi. Dalam riwayat dari Anas bin Malik disebutkan bahwa Abu Thalhah meninggal ketika berlayar dan daratan baru ditemukan setelah beberapa hari.
Kisah tersebut menjadi salah satu catatan tentang pengorbanan seorang sahabat yang tetap berusaha mengamalkan apa yang dipahaminya dari Al-Qur'an hingga akhir hayat.
Ketika Al-Qur'an Menjadi Pedoman Kehidupan
Kisah Abu Thalhah memberikan pelajaran penting tentang bagaimana generasi sahabat memandang Al-Qur'an. Bagi mereka, Al-Qur'an bukan sekadar bacaan atau hafalan. Ayat-ayatnya menjadi pedoman dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.Abu Thalhah telah berada pada usia yang tidak lagi muda. Anak-anaknya bahkan memandang sudah saatnya ia beristirahat setelah berbagai perjuangan yang pernah dilakukan bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun, ia memilih memahami panggilan ayat Al-Qur'an sesuai dengan keyakinan dan kemampuannya.
Pengorbanan Abu Thalhah juga menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Al-Qur'an dapat melahirkan komitmen yang kuat untuk menjalankan ajarannya.Allah SWT berfirman:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur'an) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Tidakkah kamu mengerti?" (QS Al-Anbiya [21]: 10).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai pedoman dan kemuliaan bagi manusia.
Syekh Muhammad al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa generasi pertama umat Islam memperoleh kemuliaan karena menempatkan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Sebaliknya, ketika manusia menempatkan hawa nafsu dan keinginan pribadi di atas tuntunan Al-Qur'an, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kehilangan pengaruh dalam kehidupan.
Kisah Abu Thalhah akhirnya bukan hanya tentang seorang sahabat yang tetap berangkat dalam perjuangan di usia lanjut. Kisah ini juga menjadi gambaran bagaimana Al-Qur'an mampu membentuk sikap, keputusan dan pengorbanan seorang Muslim. Wallahu a'lam.
Baca juga:Meninggal Dunia di Laut, Begini Cara Menguburkan Jenazah Menurut Islam










