Hadapi Amerika, Iran Tak Ingin Konflik tapi Siap Perang
NEW YORK, iNews.id - Iran tidak menginginkan konflik, namun siap melawan jika diserang. Penegasan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, membahas krisis di negara itu dan ancaman serangan Amerika Serikat (AS), Kamis (15/1/2026).
Iran diguncang demonstrasi besar sejak 28 Desember 2025 yang hingga kini telah menewaskan sekitar 2.700 orang. AS menuduh pemerintah Iran bertindak represif terhadap demonstran dan mengancam akan menyerang negara itu.
“Iran tidak menginginkan eskalasi atau konfrontasi. Namun, setiap tindakan agresi, langsung atau tidak langsung, akan ditanggapi dengan respons yang tegas, proporsional, dan sah," ujar Darzi, mengutip Pasal 51 Piagam PBB, seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (16/1/2026).
Dia menegaskan, pernyataannya tersebut bukan bertujuan sebagai intimidasi, namun penegasan atas tanggung jawab hukum.
Sementara itu Dubes AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan, semua opsi terkait Iran tetap berada di tangan Presiden AS Donald Trump, merujuk pada ancaman serangan.
“Dia (Trump) telah menjelaskan bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian,” kata Waltz.
Masyarakat internasional, kata dia, memikul tanggung jawab untuk mendukung rakyat Iran.
Trump berkali-kali mengancam akan menyerang Iran jika tindakan represif aparat keamanan yang menyebabkan kematian demonstran terus berlanjut. Namun, Trump melunak pada Rabu lalu dengan mengatakan Iran menghentikan pembunuhan serta membatalkan hukuman gantung terhadap para demonstran.
Demonstrasi yang dipicu melemahnya mata uang rial Iran atas dolar AS itu awalnya berlangsung di Teheran yakni dengan aksi mogok para pedagang di Pasar Besar, kemudian menyebar dengan cepat ke kota-kota lain disertai dengan kerusuhan.
Kerusuhan semakin parah sejak 8 Januari, menyusul seruan perlawanan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada hari yang sama, otoritas Iran memutus akses internet dan komunikasi.



