3.000 Demonstran Ditangkap dalam Protes Massal, Situasi di Iran Mulai Tenang
JAKARTA - Pihak berwenang Iran mengatakan setidaknya 3.000 orang telah ditangkap dalam demonstrasi anti-pemerintah selama beberapa minggu terakhir, menurut laporan kantor berita negara. Pada Jumat (16/1/2026), protes massal di Iran sebagian besar telah diredam, dengan jalan-jalan di Ibu Kota Teheran dan wilayah lain relatif tenang.
Situs pemantau daring NetBlocks menyebutkan pada Jumat bahwa pemadaman internet nasional telah memasuki hari kedelapan setelah otoritas Iran memutus akses internet pada puncak protes pekan lalu, demikian dilaporkan Al Jazeera.
Ribuan warga Iran turun ke jalan sejak akhir Desember karena marah atas inflasi yang melonjak dan devaluasi tajam mata uang lokal, yang memicu tindakan keras dari otoritas Iran.
Para pemimpin Iran menyebut demonstran sebagai "perusuh" dan menuduh negara-negara asing, terutama Amerika Serikat dan Israel, memicu kerusuhan tersebut.
Kelompok hak asasi manusia mengatakan lebih dari 1.000 demonstran telah tewas sejak aksi dimulai, sementara pemerintah Iran menyebut setidaknya 100 petugas keamanan juga tewas dalam serangan terkait protes.
Kemungkinan eskalasi lebih luas membayangi pekan ini ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berulang kali mengancam akan memerintahkan tindakan militer terhadap Iran jika lebih banyak demonstran tewas.
Namun Trump kemudian melunakkan retorikanya setelah mengatakan kepada wartawan bahwa Teheran telah membatalkan rencana mengeksekusi ratusan demonstran.
“Saya sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi gantung yang dijadwalkan, yang seharusnya berlangsung kemarin (lebih dari 800 orang), telah dibatalkan oleh pimpinan Iran. Terima kasih!” tulis Trump di media sosial pada Jumat sore.
Steve Witkoff, utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, juga mengatakan pada Kamis (15/1/2026) malam bahwa ia berharap “resolusi diplomatik” dapat dicapai untuk meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington.
Aksi protes ini merupakan yang terbesar sejak gerakan tahun 2022–2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi, setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan di negara tersebut.









