Gubernur NTT Murka: Malu Saya, Ada Anak Meninggal karena Tidak Bisa Beli Buku

Gubernur NTT Murka: Malu Saya, Ada Anak Meninggal karena Tidak Bisa Beli Buku

Terkini | inews | Rabu, 4 Februari 2026 - 20:54
share

KUPANG, iNews.id - Kematian tragis seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada akibat tekanan kemiskinan memicu kemarahan besar sekaligus rasa malu mendalam bagi Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Dengan nada emosional, Gubernur menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa karena menyangkut hilangnya nyawa seorang anak yang hanya ingin memiliki buku sekolah.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Melki saat menghadiri acara di Universitas Citra Bangsa, Kupang. Ia mengaku sangat terpukul karena kasus ini telah menjadi sorotan nasional hingga mengundang pertanyaan dari berbagai menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara.

Baginya, kenyataan bahwa ada warga NTT yang harus kehilangan nyawa hanya karena tidak mampu membeli peralatan sekolah adalah sebuah tamparan keras bagi martabat daerah.

Gubernur Melki secara terbuka menyebut tragedi ini sebagai bentuk kegagalan sistemik. Dia tidak hanya menyalahkan pemerintah daerah, tetapi juga menyoroti peran pranata sosial, agama, dan budaya yang dianggap gagal mendeteksi serta membantu warganya yang sedang kesulitan. Baginya, pemerintah di tingkat provinsi maupun kabupaten telah lalai menjalankan fungsinya sebagai pelindung rakyat.

Kekecewaan Gubernur semakin memuncak lantaran lambatnya respons dari Pemerintah Kabupaten Ngada dalam memberikan penjelasan resmi terkait kronologi kejadian.

Melki mengaku sempat menghubungi kepala daerah setempat namun tidak segera mendapatkan tanggapan yang memadai, hingga akhirnya dia harus menerjunkan timnya sendiri untuk melakukan pengecekan di lapangan. Dia memperingatkan agar pemerintah daerah tidak terbiasa dengan kemiskinan hingga menganggap kematian seperti ini sebagai hal yang lumrah.

Di akhir pernyataannya, Gubernur menyerukan agar kejadian ini menjadi momen pertobatan bersama bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT. Melki menginstruksikan kepada jajarannya agar lebih peka terhadap warga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, karena meskipun anggaran terbatas, negara harus hadir untuk urusan-urusan mendasar seperti kebutuhan sekolah anak-anak.

Tragedi ini menimpa YBS, bocah berusia 10 tahun yang ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh dekat pondok bambunya setelah permintaannya untuk membeli buku dan pulpen tidak mampu dipenuhi oleh sang ibu.

Sepucuk surat perpisahan dalam bahasa daerah yang ditinggalkan korban menjadi saksi bisu betapa berat beban yang harus dipikul oleh seorang anak kecil di tengah himpitan ekonomi.

Topik Menarik