Bahlil Akui Stok LPG Sempat Kritis, Kini Diklaim Sudah Aman

Bahlil Akui Stok LPG Sempat Kritis, Kini Diklaim Sudah Aman

Terkini | idxchannel | Sabtu, 11 April 2026 - 04:14
share

IDXChannel - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, stok Liquefied Petroleum Gas (LPG) sempat kritis pada pekan lalu. Namun, kini ketersediaan energi mulai dari LPG hingga BBM diklaim sudah aman.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengakui ketersediaan LPG sempat beberapa hari saja. Dia menjelaskan kondisi tersebut tidak lepas dari dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok.

"Urusan LPG kita sudah kita keluar dari zona yang sangat mengkhawatirkan. Jadi insyaallah stok BBM kita aman, baik solar, bensin, LPG, dan avtur. Kita sudah bisa tidur nyenyak," kata Bahlil di Senayan, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Bahlil menjelaskan saat ini stok LPG nasional telah mendekati fase normalnya yaitu 10 hari, jauh meningkat dibandingkan posisi cadangan sebelum tanggal 4 April yang lalu.  

"Ibarat orang sakit itu kita keluar ruangan ICU itu tanggal 4-5 April. LPG kita tanggal 4, tanggal 5 itu, tidak pernah terjadi cadangan kita cuma beberapa hari. tapi mulai 2 hari kemarin saya sudah bisa tidur nyenyak," kata Bahlil. 

Dia mengapresiasi peran Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mau menjual produknya ke dalam negeri, ketimbang ekspor. Kuota ekspor 30 persen yang sebelumnya diberikan pemerintah, dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dahulu, sehingga cadangan energi nasional dipastikan dalam posisi aman untuk saat ini. 

"Mulai 2 hari kemarin, LPG kita cadangannya sudah di atas 10 hari, sudah mendekati normal. Jadi tidak perlu keraguan lagi," katanya.

Sebelumnya Sesditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menjelaskan, kebijakan peralihan ekspor untuk mengutamakan kebutuhan dalam negeri bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.  

Dia mengakui bahwa produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan, sehingga pasokan LPG nasional masih didominasi impor. Kondisi ini semakin menantang akibat dinamika geopolitik global, termasuk kendala distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

"LPG yang selama ini digunakan oleh industri kami upayakan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama LPG 3 kg yang sangat dibutuhkan,” ujar Rizwi dalam Raker bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (8/4/2026).

(Rahmat Fiansyah) 

Topik Menarik