Optimalkan IC-CEPA, Indonesia dan Cili Perluas Akses Pasar Produk Pangan dan Pertanian
IDXChannel - Indonesia dan Cili mencanangkan penguatan kerja sama perdagangan bilateral yang difokuskan pada perluasan akses pasar untuk komoditas pertanian dan pangan. Langkah strategis ini diselaraskan dengan optimalisasi pemanfaatan Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA).
Hal itu menyusul pertemuan antara Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri dan Wakil Menteri Pertanian Cili, Francesco Venezian di Jakarta, belum lama ini.
Dyah Roro menyampaikan bahwa Indonesia mendorong terbukanya akses pasar yang berjalan secara timbal balik dan memberikan keuntungan bagi kedua belah piihak. Indonesia membidik pasar Cili untuk produk-produk unggulan nasional, seperti makanan olahan, kopi, kakao, rempah-rempah, produk tropis, alas kaki, kertas, otomotif, dan aneka barang manufaktur lainnya.
Di saat yang sama, Indonesia menyambut positif kepentingan Cili dalam memperluas ekspor komoditas pertanian dan pangan ke pasar domestik, termasuk buah ceri, anggur, beri, dan apel.
“Indonesia dan Cili memiliki potensi besar untuk memperdalam hubungan ekonomi. Kami mendorong akses pasar yang lebih luas bagi produk kedua negara agar hubungan perdagangan makin berimbang dan saling menguntungkan,” ujar Roro dalam keterangan resmi dikutip Senin (31/8/2026).
Dari sisi Indonesia, salah satu hasil konkret dari perluasan akses pasar ini telah terealisasi melalui pengapalan bubuk kakao olahan dalam program UMKM BISA Ekspor oleh PT Mandala Prima Makmur ke Alimentos 4M SpA. Penjajakan bisnis juga terjalin bersama E-Cibo SpA dengan potensi transaksi pada 2026 yang diperkirakan mencapai USD739.030 dengan dukungan fasilitas tarif bea masuk nol persen dari IC-CEPA.
Roro menilai, perjanjian IC-CEPA merupakan fondasi utama dalam mengerek kinerja perdagangan bilateral. Pada 2025, tingkat pemanfaatan IC-CEPA mencapai 75,7 persen dari keseluruhan nilai ekspor Indonesia ke Cili.
Nilai pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA) tercatat menembus USD334,14, melonjak 21,36 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar USD275,39. Komoditas ekspor Indonesia yang paling banyak memanfaatkan skema IC-CEPA antara lain kendaraan bermotor, alas kaki, pupuk, serta kertas dan karton.
“IC-CEPA telah memberikan fondasi yang kuat. Selanjutnya, kita perlu menerjemahkan akses pasar tersebut menjadi perdagangan yang lebih beragam, hubungan antarpelaku usaha yang makin kuat, serta peluang bisnis konkret bagi kedua negara,” tuturnya.
Menanggapi kepentingan Cili untuk memperluas penetrasi pasar komoditas pangan dan pertanian, Roro menegaskan keterbukaan Indonesia selama seluruh produk tersebut mematuhi regulasi yang berlaku. Pembahasan akses pasar untuk komoditas pertanian dan hewan dijalankan per produk dengan memperhatikan ketentuan sanitari dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS), standar keamanan pangan, sertifikasi halal, kepabeanan, serta regulasi teknis terkait lainnya.
“Perluasan akses pasar harus berjalan dua arah. Indonesia terbuka terhadap produk Cili yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Pada saat yang sama, kami juga mendorong makin banyak produk Indonesia, khususnya produk bernilai tambah, memperoleh peluang yang lebih besar di pasar Cili,” kata Roro.
Untuk memperkokoh jejaring bisnis antar-pelaku usaha, Indonesia mendorong partisipasi aktif pemerintah dan dunia usaha Cili dalam agenda Indonesia–Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Mission 2026 di Santiago pada 1-2 Oktober 2026, serta pameran dagang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Banten pada 14-18 Oktober 2026. Kedua forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan para pelaku usaha dari kedua negara.
Salah satu produk Cili yang telah memanfaatkan fasilitas preferensi tarif nol persen IC-CEPA adalah anggur segar, di mana impor Indonesia dari Cili pada 2025 mencapai USD6,97 juta dengan volume sebesar 1.887 ton.
Secara keseluruhan, total nilai perdagangan Indonesia–Cili pada 2025 tercatat sebesar USD534,9 juta, atau tumbuh 12,26 persen dibandingkan realisasi 2024. Ekspor Indonesia tercatat sebesar USD440,8 juta dan impor sebesar USD94 juta, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan senilai USD346,8 juta. Sepanjang periode 2021–2025, total perdagangan kedua negara tumbuh rata-rata 2,56 persen per tahun.
Tren positif ini berlanjut pada periode Januari-Juni 2026, di mana total perdagangan bilateral mencapai USD277,4 juta. Ekspor Indonesia tercatat USD219,8 juta berbanding impor sebesar USD57,6 juta, yang menghasilkan surplus neraca dagang bagi Indonesia sebesar USD162,2 juta.
Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke Cili pada 2025 meliputi kendaraan bermotor, pupuk, dan alas kaki. Sementara itu, impor utama Indonesia dari Cili mencakup ikan beku, bubur kayu kimia (chemical wood pulp), pupuk, pati dan inulin, serta buah anggur segar. Peluang peningkatan perdagangan dinilai masih sangat terbuka lebar untuk berbagai produk unggulan kedua negara.
(Rahmat Fiansyah)









