Perkuat Ekspor Furnitur, Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal dan Kredit Padat Karya

Perkuat Ekspor Furnitur, Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal dan Kredit Padat Karya

Terkini | idxchannel | Minggu, 27 September 2026 - 17:14
share

IDXChannel - Pemerintah menyiapkan insentif fiskal dan kredit padat karya dalam memperkuat ketahanan industri manufaktur di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah memberikan sejumlah dukungan kepada industri furnitur, antara lain melalui insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja yang memenuhi kriteria.

Pemerintah juga menyediakan dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Industri Padat Karya serta program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri.

Termasuk mendorong fasilitasi promosi dagang untuk memperluas pasar ekspor yang dibarengi dengan upaya menjaga nilai tambah produk di dalam negeri melalui pengendalian ekspor bahan mentah kayu bulat, penerapan standar mutu, serta Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

“Penyelenggaraan event internasional menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (27/9/2026).

Menurut Airlangga, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan penetrasi produk furnitur di pasar global melalui peningkatan kualitas dan desain, penerapan prinsip keberlanjutan, promosi dagang, serta perluasan jaringan dengan pembeli internasional.

Kinerja perdagangan furnitur Indonesia juga mencatatkan surplus secara konsisten sejak 2021. Pada 2025, nilai ekspor mebel mencapai USD2.390,68 juta, sedangkan impor tercatat USD1.917,37 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan furnitur mencatat surplus USD473,31 juta.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir furnitur terbesar ke-25 dunia pada 2025 dengan pangsa pasar 0,77 persen. Amerika Serikat menjadi pasar utama yang menyerap sekitar 60 persen ekspor furnitur Indonesia.

Airlangga mengatakan, pengembangan desain furnitur nasional perlu terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perubahan preferensi konsumen global. Permintaan pasar internasional saat ini semakin mengarah pada produk yang mengutamakan fungsi, fleksibilitas kustomisasi, serta penggunaan material ramah lingkungan.

Indonesia memiliki keunggulan bahan baku berupa kayu dan rotan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada 2024, produksi kayu bulat nasional mencapai 57,46 juta meter kubik. Sekitar 20 persen produksi tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan kayu domestik. Indonesia juga menguasai lebih dari 80 persen pasokan rotan dunia.

Namun, struktur industri nasional yang didominasi industri kecil dan menengah (IKM) masih menghadapi sejumlah tantangan. Airlangga menyebut IKM mencapai 99,79 persen dari sekitar 4,45 juta unit usaha industri dan menyerap 65,52 persen tenaga kerja industri.

“Dengan skala ini, industri tentu masih menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan. Dari sisi pasar, pelaku industri juga perlu menyesuaikan diri dengan standar dan regulasi serta selera di negara tujuan,” ujar Airlangga.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik