Menko Airlangga Ungkap Strategi RI di Tengah Geopolitik Global

Menko Airlangga Ungkap Strategi RI di Tengah Geopolitik Global

Ekonomi | okezone | Selasa, 13 Januari 2026 - 13:05
share

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pentingnya kemandirian pangan nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Menurutnya, ketahanan dan keamanan pangan menjadi faktor krusial bagi sebuah negara untuk menjaga eksistensinya. Airlangga mengatakan Indonesia harus memiliki daya tahan dalam berbagai situasi krisis. 

Dia menyebut pengalaman saat pandemi COVID-19 pada 2022 menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, di mana kala itu, sejumlah negara menerapkan embargo ekspor pangan demi melindungi kebutuhan domestik masing-masing.

"Indonesia di tengah volatilitas global harus belajar pada saat krisis, saat COVID-19 di tahun 2022. Kita melihat bagaimana negara melakukan embargo ekspor pangan, sehingga itu pelajaran berharga bahwa kita harus mandiri secara pangan agar dalam situasi krisis ataupun situasi apapun kita bisa bertahan dan kita punya resiliensi terhadap pangan kita," ungkap Airlangga di Menara Kadin, Jakarta pada Selasa (13/1/2025).

Dia menekankan, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 282 juta jiwa, pangan dan konsumsi masyarakat menjadi aspek yanh sangat penting dalam menopang stabilitas nasional. 

Airlangga mengibaratkan ketahanan pangan layaknya pasokan makanan bagi industri.

"Jadi kalau mangan aman, pabrik aman. Kalau mangan tidak aman, pabrik tidak aman. Nah itu secara nasional juga kita harus jaga. Yang paling penting segonya, nasinya mesti aman. Jadi kalau nasi aman, lauk-lauk yang lain juga aman. Jadi ini yang kita perlu jaga," tegas Airlangga.

Menurut Airlangga, prinsip tersebut juga berlaku dalam skala nasional. Beras sebagai pangan utama masyarakat Indonesia harus dijaga ketersediaan dan stabilitasnya. 

 

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan bahwa sektor pertanian dan pangan telah ditetapkan sebagai prioritas nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Alhamdulillah kita di tahun kemarin produksinya 34,71 juta ton. Dan itu salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah. Dan di angka tersebut itu juga terjadi lonjakan produksi sebesar 3,52 juta ton," ungkapnya.

Meski demikian, Airlangga juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas harga dan inflasi pangan. 

Dia menyebut inflasi pangan saat ini berada di kisaran 6,21 persen. Namun di sisi lain, kondisi tersebut turut berdampak positif terhadap kesejahteraan petani.

"Inflasi kita sudah di angka 6,21 untuk pangan. Namun kita juga harus bersyukur bahwa dengan naikan harga dan harga-harga yang relatif baik ini, nilai tukar petani juga tertinggi sepanjang beberapa tahun terakhir," tandasnya.

Topik Menarik